Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi Kota Madiun pada Juni lalu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas tersebut menyumbang inflasi sebesar 0,11 persen dari total inflasi bulanan 0,33 persen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun Totok Sugiarto menyebut anomali cuaca sebagai penyebab melonjaknya harga.
‘’Panen cabai tidak maksimal karena cuaca tidak menentu. Sementara permintaan tetap tinggi, pasokan menipis,’’ terang Totok, Minggu (6/7).
Berbagai upaya pengendalian inflasi terus dilakukan.
Antara lain pembagian 20 ribu bibit cabai kepada warga menjelang Idul Adha lalu.
Diharapkan, bibit tersebut sudah bisa dipanen dalam waktu 70 hari setelah tanam.
‘’Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) juga terus dioptimalkan,’’ tambahnya.
Selain itu, DKPP menggandeng Bank Indonesia melalui program Sekolah Peduli Inflasi (SPI).
Totok menyebut pihaknya menjadi dewan juri untuk menilai pelaksanaan SPI di SMP negeri dan swasta se-Kota Madiun.
‘’Program ini edukatif dan membentuk kesadaran pelajar soal pengendalian inflasi sejak dini,’’ jelasnya.
Totok menambahkan, sejumlah tanaman cabai di Kelurahan Kelun kini mulai berbuah.
Meski belum memenuhi suplai pasar secara luas, setidaknya dapat membantu kebutuhan harian warga.
Pihaknya juga aktif mengevaluasi program dan menyalurkan bantuan langsung ke petani jika diperlukan.
Sementara itu, Wali Kota Madiun Maidi menginisiasi gerakan tanam cabai di lingkungan rumah dan kantor.
ASN diwajibkan menanam enam bibit tanaman pangan: dua cabai, dua tomat, dan dua terong.
Instruksi tersebut tertuang dalam surat edaran yang ditandatangani sekretaris daerah.
‘’Setiap kantor pemerintahan juga wajib menanam cabai. Ini bentuk kontribusi bersama untuk menekan inflasi,’’ pungkasnya. (err/den)
Editor : Hengky Ristanto