Jawa Pos Radar Madiun – Proses daftar ulang dalam tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SD dan SMP negeri Kota Madiun resmi berakhir kemarin (9/7).
Namun, dinamika klasik kembali terjadi: puluhan calon peserta didik belum menyelesaikan registrasi ulang di sekolah tujuan masing-masing.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun, dari total pagu 2.106 siswa SD negeri, masih ada 24 calon siswa yang belum melakukan daftar ulang.
Sementara itu, dari 2.914 pagu pendaftar SMP negeri, tercatat 36 siswa juga belum mengkonfirmasi ulang di sekolah yang telah dipilih.
“Mereka tersebar di beberapa sekolah,” jelas Kabid Pembinaan Bahasa dan Sastra Dindik, Slamet Hariyadi.
Fenomena serupa memang berulang setiap tahun ajaran baru.
Mayoritas calon siswa yang batal melakukan daftar ulang biasanya beralih ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Ketika siswa tidak melakukan daftar ulang, otomatis namanya tidak tercantum sebagai siswa resmi di sekolah negeri Kota Madiun.
“Ketika tidak daftar ulang, otomatis tidak masuk dalam daftar siswa sekolah di Kota Madiun,” tegas Hariyadi.
Meski tahapan resmi telah ditutup, Dindik Kota Madiun tetap membuka peluang tambahan bagi anak-anak warga kota yang belum daftar ulang karena kendala tertentu.
Kesempatan ini juga diberikan bagi anak asli Kota Madiun yang hingga saat ini belum memperoleh sekolah.
“Kami akan memperpanjang tahapan daftar ulang khusus untuk anak kota. Prinsipnya, anak asli Kota Madiun harus mendapatkan sekolah,” imbuhnya.
Selanjutnya, seluruh siswa yang telah menyelesaikan daftar ulang dijadwalkan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 14–18 Juli.
Dalam masa orientasi ini, para siswa akan dikenalkan berbagai program sekolah—baik intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga penelusuran bakat dan minat.
Tak kalah penting, nilai-nilai nasionalisme, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab juga mulai ditanamkan sejak awal.
Hariyadi menegaskan bahwa selama MPLS berlangsung, sekolah dilarang keras melakukan praktik plonco atau penempaan fisik kepada siswa baru.
“MPLS harus asyik, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik. Tidak boleh ada plonco atau semacamnya,” tandasnya. (ggi/her)
Editor : Hengky Ristanto