Jawa Pos Radar Madiun – Di tangan Warih Budi Purnawati, tumpukan plastik bekas berubah menjadi karya bernilai ekonomi.
Warga Jalan Jeruk Nomor 37, Kelurahan Taman, itu piawai merajut kantong kresek menjadi tas, tikar, wadah tisu, hingga rompi unik.
Kerajinan itu ditekuninya sejak 2020. Warih terinspirasi dari teman-temannya yang lebih dulu membuat rajutan dari plastik bekas.
’’Keterusan sampai sekarang karena senang lihat warna-warni yang bagus. Sekaligus memanfaatkan plastik bekas,’’ ujarnya, Senin (6/10).
Sebelum beralih ke plastik, perempuan 58 tahun itu sudah gemar merajut benang biasa.
Bahkan sempat membentuk kelompok kecil yang rutin belajar setiap Minggu sebelum pandemi Covid-19.
’’Sekarang masih komunikasi, tapi belum sempat kumpul lagi,’’ katanya.
Dari rumahnya, Warih terus berkarya.
Dalam sehari, ia bisa membuat enam lepek kecil, sementara tas besar biasanya selesai dalam sepekan.
’’Yang paling susah itu wadah gelas karena tidak ada polanya. Kadang sudah jadi, malah dibongkar lagi,’’ ceritanya sambil tertawa.
Bahan-bahan diperolehnya dari bank sampah setiap Sabtu.
Plastik bekas dibersihkan, dipotong memanjang sekitar dua sentimeter, lalu digulung seperti benang rafia.
’’Kalau plastiknya molor, susah dirajut. Kadang saya campur pakai benang biasa,’’ jelasnya.
Hasil karyanya dijual dengan harga Rp 5 ribu hingga Rp 300 ribu.
Produk-produk itu pernah dipamerkan di UMKM Lawu Plaza binaan Dinas Tenaga Kerja dan KUKM Kota Madiun, bahkan dibawa ke Yogyakarta dan Bali.
Bagi Warih, keuntungan bukan segalanya. Kebahagiaan justru muncul saat melihat orang kagum pada hasil rajutannya.
’’Senang kalau ada yang beli dan baru tahu kalau ini dari plastik bekas. Jadi kalau lihat kresek di jalan rasanya eman kalau dibuang,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto