Jawa Pos Radar Madiun – Rokok masih menjadi salah satu beban terbesar pengeluaran rumah tangga di Kota Madiun.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, rata-rata pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai Rp 66.861 per kapita per bulan atau 7,85 persen dari total pengeluaran makanan dan minuman.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan, besarnya pengeluaran tersebut nyaris menyamai kebutuhan pokok utama.
’’Pengeluaran untuk rokok hampir setara dengan pengeluaran padi-padian sebesar Rp 72.643 per kapita per bulan atau 8,53 persen,’’ ujarnya, Jumat (10/10).
Kebiasaan Merokok Lekat dalam Kehidupan
Aziz menilai, kebiasaan merokok masih kuat melekat dalam kehidupan masyarakat.
’’Masih menjadi habit, masih dianggap bagian dari gaya hidup. Kalau tidak merokok dianggap tidak asik,’’ ungkapnya.
Ironisnya, kelompok masyarakat berpendapatan rendah justru menghabiskan proporsi pengeluaran rokok paling besar.
Berdasarkan data BPS, kelompok bawah mencatat pengeluaran rokok mencapai 4,75 persen dari total belanja rumah tangga, kelompok menengah 3,84 persen, dan kelompok atas 2,42 persen.
’’Artinya, masyarakat berpenghasilan rendah rela mengorbankan kebutuhan pokok lain demi membeli rokok,’’ terang Aziz.
Berapa Rata-Rata Uang yang Dikeluarkan untuk Rokok?
Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran per kapita warga Kota Madiun mencapai Rp 2,04 juta per bulan.
Dari jumlah itu, Rp 851.609 dialokasikan untuk makanan dan Rp 1,19 juta untuk nonmakanan.
Jika dikelompokkan berdasarkan tingkat ekonomi, 20 persen penduduk berpendapatan tertinggi memiliki pengeluaran makanan sebesar Rp 1,64 juta per bulan, kelompok menengah Rp 841.598, dan kelompok bawah Rp 470.782.
Aziz menilai, tingginya belanja rokok bersifat kontraproduktif terhadap kesejahteraan masyarakat.
Sebab, harga rokok terus naik akibat kebijakan cukai, namun konsumsi tidak menurun.
’’Harga naik, tapi tidak menurunkan konsumsi. Justru memperberat beban rumah tangga berpenghasilan rendah,’’ tuturnya.
Untuk mengatasi hal itu, BPS menyarankan tiga langkah konkret.
Antara lain, memperluas edukasi berhenti merokok, mempersempit area merokok di ruang publik, dan meningkatkan promosi antirokok di kalangan anak-anak usia sekolah.
’’Stigma seperti ‘lebih baik tidak makan daripada tidak merokok’ harus diubah. Kalau tidak, kemiskinan akan terus berputar di lingkaran itu,’’ tegasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto