Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun kembali berwarna.
Deretan pohon tabebuya bermekaran serentak di sepanjang ruas jalan perkotaan, mempercantik suasana dengan bunga kuning dan merah muda yang mencolok.
Musim kemarau panjang disertai sinar matahari terik menjadi faktor utama di balik mekarnya bunga asal Brasil itu.
Kabid Prasarana Sarana dan Utilitas RTH, PJU, dan Pemakaman Disperkim Kota Madiun Andi Anto menjelaskan, kondisi cuaca yang stabil sangat mendukung proses pembungaan tabebuya tahun ini.
’’Kemarau panjang dan sinar matahari penuh memicu tabebuya berbunga serentak. Kami juga rutin melakukan pemupukan dan penyemprotan,’’ ujarnya, Senin (13/10).
Selain perawatan, tahun ini disperkim juga melakukan penyulaman dan penanaman baru sekitar 400 pohon tabebuya.
Titiknya tersebar di Jalan dr. Soetomo, Jalan S. Parman, dan Taman Sedoro, Banjarejo.
’’Penambahan dilakukan di jalur utama agar pemerataan vegetasi tabebuya merata di seluruh kota,’’ terangnya.
Andi menyebut, tabebuya yang baru ditanam belum bisa langsung berbunga.
Umumnya, butuh waktu dua hingga tiga tahun hingga pohon dewasa siap memamerkan keindahannya.
’’Beberapa tahun ke depan, hasilnya akan terlihat. Kota makin hijau dan indah,’’ jelasnya.
Untuk kegiatan penyulaman dan perawatan taman, disperkim mengalokasikan anggaran Rp 300 juta.
Dana itu mencakup perawatan tanaman hias serta penghijauan di berbagai taman kota.
’’Bukan hanya tabebuya, tapi juga tanaman hias dan penghijauan lainnya,’’ tambahnya.
Ke depan, konsep penghijauan juga akan diterapkan di kawasan lain seperti TPA Winongo dengan tanaman berbuah.
’’Kalau di TPA fokusnya tanaman produktif, bukan tabebuya,’’ pungkas Andi. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto