Jawa Pos Radar Madiun – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan di wilayah Kota Madiun.
Sejumlah langkah antisipatif dilakukan untuk meminimalkan risiko banjir, mulai dari normalisasi sungai, pengecekan tanggul, hingga pengoperasian tiga pompa utama.
Staf Teknis OPSDA III BBWS Bengawan Solo Nanang mengatakan, normalisasi dilakukan di beberapa titik rawan, termasuk Kali Piring di Kelurahan Pilangbango dan wilayah Sawahan.
’’Kami juga melakukan penelusuran lapangan untuk mengecek kondisi tanggul yang berpotensi jebol. Beberapa titik sudah dipetakan, namun pengerjaan masih menunggu alokasi anggaran tahun depan,’’ jelasnya, Minggu (9/11).
Selain itu, BBWS telah menggelar apel siaga bencana pada 21 Oktober di Solo dan membentuk pos siaga di wilayah Madiun.
Pos ini bertugas memantau debit air serta Tinggi Muka Air (TMA) secara real time setiap hari.
’’Kalau ada kenaikan TMA, kami langsung laporkan ke pusat di Solo,’’ imbuhnya.
Dari hasil pemetaan, ada tiga wilayah yang dikategorikan rawan banjir, yakni Kali Piring Pilangbango, wilayah tengah Kota Madiun, dan Manguharjo.
Penyebab utamanya masih klasik, yakni penumpukan sampah rumah tangga dan bambu di sungai.
’’Tumpukan itu sering menyumbat aliran air di bawah jembatan hingga akhirnya meluap,’’ ungkapnya.
Sebagai langkah konkret, BBWS menyiagakan tiga unit pompa besar di Pancasila (dekat Alun-Alun Kota Madiun), Patihan, dan Beteng.
Masing-masing pompa memiliki dua mesin yang rutin dicek.
’’Begitu debit naik, pompa langsung difungsikan untuk mempercepat aliran air menuju Sungai Madiun,’’ papar Nanang.
Meski curah hujan meningkat, kondisi daratan Madiun masih terkendali.
Sistem pintu klep otomatis di Sungai Madiun akan menutup saat debit naik untuk mencegah air dari drainase kota meluap balik.
’’Kalau debit tinggi, pintu klep tertutup dan air akan dipompa keluar,’’ tutupnya.
BBWS mengimbau warga agar tidak membuang sampah ke sungai dan menjaga kebersihan saluran air.
’’Kalau drainase bersih, daya tampung air tetap optimal,’’ tegas Nanang. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto