Jawa Pos Radar Madiun - Pemkot Madiun menyiapkan strategi khusus menekan dampak pemangkasan dana transfer keuangan daerah (TKD).
Salah satunya dengan mengoptimalkan peran badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai penopang pendapatan asli daerah (PAD).
Sekda Kota Madiun Soeko Dwi Handiarto menegaskan, pihaknya terus melakukan pembinaan dan evaluasi rutin agar seluruh BUMD bisa berkontribusi maksimal.
’’BUMD dibentuk salah satunya untuk mendukung PAD. Karena itu kami dorong agar kinerjanya optimal,’’ ujarnya, kemarin (9/11).
Dari tiga BUMD milik pemkot, Perumdam Tirta Taman Sari menjadi penyumbang PAD paling stabil.
Sementara BPR Bank Daerah dan Perumda Aneka Usaha mulai mencatatkan laba meski belum signifikan.
’’Keduanya sudah ada keuntungan, tapi masih perlu digenjot lagi agar hasilnya lebih optimal,’’ jelas Soeko.
Menurutnya, sejumlah tantangan masih dihadapi BUMD, mulai dinamika ekonomi hingga keterbatasan inovasi.
Karena itu, pengawasan dilakukan rutin agar masalah bisa terdeteksi sejak dini.
’’Kami dorong inovasi dari internal BUMD maupun pembina dan dewas agar menyesuaikan perkembangan zaman,’’ tuturnya.
Terkait pengembangan usaha baru, Soeko menyebut pemkot akan memaksimalkan unit bisnis yang sudah berjalan sebelum membuka sektor baru.
’’Membuka usaha baru butuh biaya besar. Maka kami optimalkan dulu yang sudah ada,’’ tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepercayaan publik terhadap BUMD.
’’Masyarakat bisa ikut berkontribusi, misalnya dengan membayar tagihan PDAM tepat waktu, mengambil kredit di BPR, atau memanfaatkan layanan Aneka Usaha. Dukungan publik akan membuat BUMD semakin kuat dan memberi manfaat balik,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto