Jawa Pos Radar Madiun - Inovasi ramah lingkungan kembali lahir dari pelajar Kota Madiun.
Tiga siswa SMAN 2 Madiun menciptakan alat penyaring udara berbasis energi terbarukan bernama PUSTARA (Purifier System with Solar and Piezoelectricity for Air-quality based IoT-Sensor for Smart City to realize SDGs 5.0).
Mereka adalah Muhammad Wilman Hakim (16), Raditya Mierza Pandudewata (17), dan Joanne Callysta Meidy (17).
Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali perak dalam ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC) 2025 di Malaysia yang digelar daring, akhir Oktober lalu.
’’Senang banget bisa bawa nama Madiun ke tingkat dunia,’’ ujar Wilman, kemarin (9/11).
Ide PUSTARA muncul dari kepedulian terhadap polusi udara di kawasan industri dan pabrik gula di Madiun.
Alat itu bukan sekadar penyaring udara, tetapi juga berfungsi sebagai lampu taman dan panel surya yang memanfaatkan energi pijakan kaki manusia (piezoelektrik) serta tenaga matahari.
’’Energi disimpan dan aktif saat sensor mendeteksi udara tidak aman,’’ jelasnya.
Lebih canggih, alat ini terhubung dengan Internet of Things (IoT) sehingga kualitas udara bisa dipantau secara real time melalui ponsel pintar.
Menariknya, dua dari tiga siswa tersebut bukan berasal dari jurusan sains, melainkan aktif di bidang seni.
’’Biasanya ikut lomba seni. Tapi pas lihat lomba ini menarik dan biayanya murah, kami coba saja,’’ ungkap Wilman sambil tersenyum.
Persiapan lomba hanya memakan waktu satu minggu, mulai dari penyusunan konsep hingga presentasi dalam bahasa Inggris.
Kini, mereka berencana mengembangkan PUSTARA agar bisa diterapkan di kawasan industri Kota Madiun.
’’Harapannya, alat ini bisa membantu memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan bersih,’’ tutupnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto