Jawa Pos Radar Madiun – Upaya pencegahan kanker leher rahim di Kota Madiun terus diperkuat.
Puskesmas Ngegong menggelar skrining human papillomavirus (HPV) bagi 89 perempuan selama dua hari di Puskesmas Pembantu Sogaten.
Penanggung jawab kegiatan, Tatik Hidayah, menyebut sasaran diperoleh melalui kader posyandu.
’’Kami utamakan kader dan tenaga kesehatan Puskesmas Ngegong,’’ ujarnya, kemarin (18/11).
Skrining menggunakan metode HPV DNA untuk mendeteksi virus HPV tipe risiko tinggi, terutama tipe 16 dan 18 yang berpotensi memicu kanker serviks.
Pemeriksaan menyasar perempuan usia 30–69 tahun dan dinilai lebih sensitif dibandingkan tes inspeksi visual asam asetat (IVA).
Petugas mengambil sampel sel dari serviks menggunakan spatula atau brush khusus sebelum dikirim ke laboratorium rujukan.
’’Jika ditemukan DNA HPV tipe risiko tinggi, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum sel berubah menjadi kanker,’’ terang Tatik.
Bidan Puskesmas Ngegong itu menambahkan, skrining dilakukan melalui tiga metode: HPV DNA, pap smear, dan IVA.
Dari pemeriksaan awal sekitar 25 persen atau 13 orang, tidak ditemukan hasil IVA positif.
Namun, dua pasien terdeteksi mengalami polip.
’’Jika hasil IVA positif, pasien dirujuk ke puskesmas menggunakan BPJS,’’ tambahnya.
Edukasi disebut masih menjadi tantangan.
Banyak perempuan merasa malu atau takut menjalani pemeriksaan.
Namun, kesadaran perlahan meningkat setelah melihat kasus kanker serviks di lingkungan sekitar.
’’Kami terus melakukan edukasi dari posyandu ke pertemuan warga,’’ tuturnya.
Yeni Purwati (39), warga Ngegong, mengaku terbantu dengan pemeriksaan gratis tersebut.
’’Pemeriksaan dini penting supaya tahu kondisi kesehatan lebih cepat. Prosesnya mudah dan cukup pakai BPJS,’’ ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto