Jawa Pos Radar Madiun – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Madiun kembali memakan korban jiwa.
Sepanjang Januari–September 2025, tiga pasien DBD yang dirawat di RSUD dr Soedono meninggal dunia.
Seluruhnya merupakan rujukan dari fasilitas kesehatan lain dengan kondisi sudah memasuki fase berat atau dengue shock syndrome (DSS).
Dokter UGD RSUD dr Soedono, dr. Reny Faristin Putri Arifin, menjelaskan bahwa fase kritis DBD terjadi pada hari ke-4 hingga ke-5.
Pada periode itu, pasien rentan mengalami tanda-tanda syok seperti akral dingin, tekanan darah menurun, nadi cepat, hingga perdarahan spontan.
“Sejak hari pertama demam harus diperiksakan. Jangan tunggu terlambat,” tegas Reny, Selasa (2/12).
RSUD dr Soedono menangani 29 kasus DBD sejak awal musim penghujan hingga September.
Angka tersebut lebih rendah dibanding tahun lalu.
Bahkan, Reny mengingat kasus khusus: seorang ibu hamil tujuh bulan yang terkena DBD tetapi berhasil ditangani hingga melahirkan normal.
Menurut Reny, virus dengue dapat menyerang semua usia, termasuk kalangan muda.
WHO mencatat 50 juta kasus dengue per tahun dengan tingkat kematian mencapai 2,5 persen.
Gejalanya muncul akibat turunnya imunitas yang memicu kebocoran plasma di dalam tubuh.
“Ini yang menyebabkan demam, nyeri sendi, lemas, hingga potensi syok,” jelasnya.
Mengantisipasi lonjakan kasus di musim penghujan, RSUD dr Soedono menyiapkan 369 tempat tidur, terdiri dari 66 bed ruang intensif dan 303 tempat tidur rawat inap.
“Kami siap berkoordinasi antarunit jika terjadi peningkatan kasus DBD,” tambahnya.
Selain penanganan medis, Reny mengingatkan masyarakat untuk memperkuat pencegahan.
Kebiasaan menggantung pakaian, adanya genangan air, hingga kamar mandi yang jarang dikuras disebut menjadi tempat berkembangbiaknya jentik.
“3M Plus tetap harus dijalankan. Fogging bisa dilakukan bila ada permintaan lingkungan,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto