Jawa Pos Radar Madiun - Universitas Merdeka (Unmer) Madiun menggelar Seminar Nasional Multidisiplin Merdeka (Semmar) 2025 untuk menguatkan strategi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan yang digelar secara daring, Rabu (10/12), menghadirkan enam pakar nasional dan diikuti lebih dari 360 peserta dari akademisi, industri, pemerintah, komunitas, hingga publik umum.
Semmar 2025 terselenggara melalui kolaborasi berbagai universitas dan lembaga, dengan dukungan Pemkot Madiun.
Rektor Unmer Madiun, Dr. Ir. Luluk Sulistiyo Budi, M.P., menyebut seminar ini menjadi ruang dialog intelektual lintas disiplin, dari teknologi, hukum, ekonomi, pendidikan, hingga pangan.
“Acara terselenggara atas kolaborasi antara Unmer Madiun, Universitas Prof. Dr. Hazairin SH Bengkulu, Universitas Darul Ulum Jombang, Universitas AKPRIND Indonesia, dan Universitas Pattimura Ambon, serta dukungan resmi dari Pemkot Madiun, Universitas Andalas, Pusat Riset dan Inovasi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh LPPM Universitas Terbuka (UT), UPN Veteran Yogyakarta, Peradin, dengan Pegadaian Cabang Madiun sebagai sponsor utama kegiatan,” ujar Rektor Unmer Madiun Dr. Ir. Luluk Sulistiyo Budi, M.P.
"Kampus harus menjadi generator perubahan melalui riset, publikasi, dan rekomendasi kebijakan ilmiah yang dapat diterapkan nyata dalam pembangunan nasional," sambung Luluk.
Wakil Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, menekankan Madiun sebagai Kota Dunia.
"Madiun tidak hanya ingin menjadi kota yang maju. Madiun harus menjadi Kota Dunia. Kota yang menjadi ruang keberanian, ruang inovasi, ruang ilmu yang bisa dipertemukan dan dikirim ke seluruh penjuru Indonesia bahkan internasional," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Semmar menjadi bukti Madiun siap menjadi episentrum pengetahuan dan ruang gagasan berdampak nasional.
Enam pakar nasional menjadi pembicara utama dalam seminar. Mereka antara lain:
Assoc. Prof. Dr. Firman Wijaya, SH., MH. membahas urgensi penguatan hukum konstruksi dan arbitrase sebagai fondasi percepatan proyek infrastruktur.
Dr. Anto Prabowo, S.E., MBA. menyoroti arah perekonomian Indonesia, termasuk kebijakan likuiditas Rp 200 triliun dan stabilitas keuangan digital.
Dr. Muhammad Edy Susilo, M.Si. menekankan Penthahelix Collaboration untuk penyelesaian masalah publik berskala nasional.
Dr. Novizar Nazir memaparkan strategi ketahanan pangan berbasis agro-teknologi dan efisiensi rantai produksi.
Dr. Etty Puji Lestari menyoroti masa depan pembelajaran digital berbasis AI, Metaverse, virtual lab, dan micro-credential.
Dr. Pradityo Utomo, S.Kom., M.Cs., MTCNA mempresentasikan implementasi tata kelola digital nasional berbasis data untuk transparansi birokrasi.
Peserta seminar berasal dari berbagai provinsi dan latar belakang profesional. Dari total 360 peserta, 232 perempuan dan 128 laki-laki, dengan mayoritas dari Jawa Timur (74,1 persen).
Sebagian besar peserta merupakan mahasiswa (271 orang), diikuti dosen (70), sementara ASN/PNS dan pegawai swasta masing-masing 3,7 persen dan 1,2 persen.
Call for Paper Semmar 2025 berhasil menghimpun 71 artikel dari berbagai bidang. Rini Setyorini, Humas Unmer Madiun, menyebutkan rincian: ekonomi dan bisnis 32 artikel, teknik 20 artikel, hukum 10 artikel, Fisip 6 artikel, pertanian 3 artikel.
Seminar ini menghasilkan tiga rekomendasi utama: penguatan arbitrase konstruksi, pengembangan SDM unggul melalui pendidikan digital dan riset multidisiplin, serta implementasi tata kelola digital berbasis data.
Hasil seminar menjadi tonggak akademik baru di Madiun. Menurut Rini, Semmar akan menghasilkan prosiding, publikasi, dan konsorsium riset, sekaligus menjadikan Madiun sebagai ruang temu ilmu yang gagasannya bergerak dari Madiun menuju Indonesia, dan dari Indonesia menuju dunia. (*)
Editor : Mizan Ahsani