Jawa Pos Radar Madiun – Komitmen Pemerintah Kota Madiun dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui dunia pendidikan kembali membuahkan hasil.
Sebanyak 31 sekolah di Kota Madiun berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Nasional dan Mandiri 2025, sekaligus menjadi yang terbanyak di Jawa Timur.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun Lismawati mengatakan, capaian tersebut menegaskan konsistensi seluruh sekolah dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Dari total 31 sekolah penerima, 10 sekolah meraih Adiwiyata Mandiri dan 21 sekolah meraih Adiwiyata Nasional.
“Jumlah ini menjadi yang terbanyak se-Jawa Timur. Capaian ini patut disyukuri karena melibatkan komitmen semua pihak, mulai kepala sekolah, guru, hingga siswa,” ujarnya, kemarin (12/12).
Menurut Lismawati, program Adiwiyata bukan sekadar penghargaan administratif.
Lebih dari itu, menjadi instrumen pembentukan karakter siswa agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
“Tujuan utamanya melatih anak-anak agar berperilaku hidup bersih, sehat, dan hijau di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Pembiasaan tersebut tidak berhenti di sekolah.
Anak-anak didorong membawa nilai kepedulian lingkungan ke rumah dan lingkungan sekitar.
Mulai dari menjaga kebersihan, merawat fasilitas umum, hingga mengelola sampah secara mandiri.
“Dari sekolah, ke rumah, lalu ke lingkungan. Harapannya ini menjadi budaya yang berkelanjutan,” tambah Lismawati.
Untuk memperkuat praktik tersebut, Dinas Pendidikan Kota Madiun mengintegrasikan edukasi pengelolaan sampah ke aktivitas harian siswa.
Melalui konsep rumah plastik dan rumah sampah, siswa dilatih memilah sampah botol, plastik, dan kertas sejak dini.
“Anak-anak harus diedukasi, dilatih, dan diberi contoh secara konsisten,” terangnya.
Dengan pembiasaan itu, Lismawati berharap siswa mampu menerapkan perilaku peduli lingkungan tanpa harus terus diingatkan.
“Targetnya, tanpa disuruh pun anak-anak sudah terbiasa memilah sampah dan menjaga kebersihan setiap hari,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Madiun Maidi menegaskan bahwa keberhasilan program Adiwiyata menjadi fondasi penting bagi penguatan kualitas sekolah secara menyeluruh.
Termasuk mendukung program lain seperti makan bergizi gratis (MBG).
“Kalau Adiwiyata sudah bagus, lingkungan sekolah sudah bagus, apalagi ada MBG. Anak-anak SD ini cepat sekali peningkatannya. Sekolahnya sehat,” tegas Maidi.
Maidi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sekolah dan pihak yang terlibat dalam capaian tersebut.
“Saya terima kasih kepada semua sekolah dan semua pihak yang membantu membawa sekolah-sekolah kita meraih Adiwiyata. Hebat, benar-benar Kota Madiun hebat,” katanya.
Sebagai langkah konkret lanjutan, Pemkot Madiun mewajibkan seluruh sekolah memiliki rumah plastik mulai tahun depan.
Program ini menjadi bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis sekolah.
“Mulai tahun depan, semua sekolah harus punya rumah plastik. Wajib,” tegasnya.
Sampah plastik yang telah dipilah nantinya dikelola secara produktif.
“Setelah dipilah, nanti ada orang keliling. Silakan dijual,” jelas Maidi.
Maidi juga menegaskan akan melakukan pengawasan langsung ke sekolah-sekolah.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Saya akan keliling. Sekolah-sekolah itu harus bisa mengendalikan sampahnya sendiri,” tuturnya.
Pengelolaan lingkungan, kata Maidi, membutuhkan kekompakan seluruh elemen.
“Kita semuanya harus kompak,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto