Jawa Pos Radar Madiun – Dari dapur rumah sederhana di Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, singkong diolah menjadi camilan yang kembali mencuri perhatian.
Wuri Reswanti menghidupkan kembali gethuk tradisional dengan sentuhan baru: gethuk krispi goreng aneka rasa.
Aroma singkong kukus dan minyak panas kerap menyambut pagi di rumahnya.
Dari sanalah, ingatan tentang gethuk—panganan yang nyaris terpinggirkan—dirawat dan diolah agar tetap relevan lintas generasi.
Tak ada rencana besar di awal. Semua bermula dari coba-coba.
Dari singkong yang biasa direbus untuk konsumsi keluarga, Wuri bereksperimen.
Dia mengukus singkong hingga empuk, menumbuknya kasar, lalu mencampurnya dengan kelapa parut kukus, gula, garam, mentega, dan sedikit vanili.
“Awalnya cuma iseng. Dicoba, ternyata enak,” ujar Wuri, Senin (22/12).
Eksperimen itu berlanjut. Adonan digiling hingga lembut, dibentuk bulat-bulat, lalu diisi berbagai varian rasa—cokelat, keju, stroberi, pandan, hingga original.
Setiap bulatan dilumuri tepung terigu dan panir sebelum digoreng hingga keemasan.
Hasilnya di luar dugaan.
Gethuk krispi buatannya cepat habis. Dari mulut ke mulut, pesanan berdatangan.
Anak-anak muda yang biasa menyantap camilan kekinian justru jatuh hati pada panganan berbahan singkong itu.
“Bumbunya saya buat simpel. Biar rasa singkongnya tetap terasa,” katanya.
Sejak akhir 2024, dapur kecil itu berubah menjadi ruang produksi.
Dibantu satu pegawai, Wuri mampu mengolah hingga empat kilogram singkong per hari atau setara ratusan biji gethuk krispi.
Harga jualnya pun ramah di kantong, Rp 1.500–Rp 2.000 per biji.
Tak berhenti di situ, Wuri membaca peluang lain.
Dia menghadirkan gethuk krispi versi frozen.
Dikemas rapi dan dapat disimpan hingga sebulan di freezer, varian ini justru laris dibawa ke luar kota sebagai oleh-oleh.
“Yang frozen banyak diminati pembeli luar kota. Praktis dan awet,” ujarnya.
Media sosial menjadi etalase utama. Dari unggahan sederhana, pesanan terus mengalir.
Setahun terakhir, permintaan meningkat. Bagi Wuri, usaha ini bukan sekadar soal omzet.
“Saya ingin makanan tradisional tetap hidup. Tidak kalah dengan camilan modern,” tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto