Jawa Pos Radar Madiun – Kesederhanaan menjadi ruh utama Goa Natal 2025 di Paroki Santo Cornelius Madiun.
Berbekal barang bekas dan semangat gotong royong, Andreas Nanang Koesharjono bersama enam rekannya menyulap limbah menjadi simbol kelahiran Yesus yang sarat makna.
Goa Natal tersebut dikerjakan selama tiga hari, mulai Minggu hingga Rabu (21–24/12).
Proses pengerjaan dilakukan pada malam hari, sementara siang hari para perajin tetap menjalani aktivitas pekerjaan masing-masing.
’’Siang kami kerja, jadi pengerjaannya malam hari semua,’’ ujar Koesharjono, kemarin (24/12).
Natal 2025 mengusung tema keluarga.
Karena itu, konsep Goa Natal dibuat sederhana dan membumi.
Seluruh material berasal dari barang daur ulang.
Mulai sak semen bekas, jerami, bambu, hingga potongan pucuk pohon cemara yang dimanfaatkan sebagai pohon Natal.
Total bahan yang digunakan meliputi 15–18 sak semen bekas, jerami, bambu, serta sekitar lima kilogram cat tembok.
Proses pembuatan dimulai dengan menyusun pola goa atau kandang Betlehem dari kertas semen yang diklip satu per satu, kemudian dicat hitam sebagai warna dasar.
Setelah itu, rangka kandang dibentuk dari bambu dan ditutup jerami.
Tahap akhir berupa pengecatan detail menyerupai lumut, penambahan ornamen pelengkap, serta penataan lampu untuk memperkuat nuansa Goa Natal.
Menurut Koesharjono, tantangan terbesar dalam proses ini bukan terletak pada teknis pembuatan, melainkan pembagian waktu yang cukup mepet.
Namun, semangat kebersamaan membuat seluruh tahapan bisa diselesaikan tepat waktu.
Setiap tahun, Paroki Santo Cornelius rutin menghadirkan Goa Natal dengan konsep berbeda.
Tahun-tahun sebelumnya, bentuk goa maupun kandang digunakan secara bergantian sesuai konteks budaya dan pesan yang ingin disampaikan.
’’Di zaman Yesus, kandang itu berupa gua. Tapi dalam inkulturasi di Indonesia, kandang divisualisasikan seperti ini. Jadi kadang pakai gua, kadang kandang, intinya penegasan maknanya,’’ jelas warga Winongo tersebut.
Sementara itu, Ketua Panitia Natal 2025 Paroki Santo Cornelius, Johannes Marno Guntoro, menyampaikan seluruh rangkaian Natal dipersiapkan secara matang.
Persiapan meliputi pemasangan tenda, kursi, dekorasi pohon Natal, hingga pembuatan Goa Natal sebagai simbol utama kelahiran Yesus.
Perayaan Natal dimulai pada 24 Desember dengan misa vigili pukul 17.00 dan 20.00.
Jadwal misa pertama dimajukan satu jam untuk mengatur arus keluar-masuk umat.
Panitia juga menyiapkan tiga titik parkir, yakni di PSDA Jatim, Bank Mandiri, dan area belakang gereja.
Pada 25 Desember, misa Natal dilaksanakan pukul 08.00, dilanjutkan pesta anak dan bazar.
Sore harinya, misa kembali digelar pukul 18.00.
Seluruh rangkaian diarahkan untuk memperkuat kebersamaan keluarga.
’’Kami ingin mengajak umat kembali berkumpul bersama keluarga. Pergi ke gereja bersama, makan bersama, dan saling berbagi,’’ ujarnya.
Rangkaian perayaan berlanjut pada 31 Desember dengan misa syukur akhir tahun pukul 18.00.
Sementara pada 1 Januari 2026, misa tahun baru digelar pukul 08.00.
Dalam tradisi Katolik, perayaan Natal berlangsung hingga Epifani sebagai penutup. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto