KOTA MADIUN – Realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kota Madiun tercatat paling tinggi dibanding wilayah lain dalam cakupan Bulog Cabang Madiun.
Kontribusi Kota Madiun bahkan melampaui Kabupaten Madiun dan Ngawi.
Pimpinan Cabang Bulog Madiun Agung Sarianto menyampaikan, hingga akhir Desember, penyaluran beras SPHP di Kota Madiun mencapai 3.330 ton atau sekitar 40 persen dari total realisasi cabang.
Sementara itu, Kabupaten Madiun mencatat realisasi sekitar 1.300 ton dan Ngawi sebesar 3.000 ton.
Adapun total target penyaluran beras SPHP Bulog Cabang Madiun tahun ini ditetapkan sebesar 10.500 ton.
“Hingga hari ini, total serapan SPHP kami sudah mencapai 8.170 ton,” ujar Agung, Sabtu (27/12).
Agung menjelaskan, tingginya realisasi penyaluran di Kota Madiun dipengaruhi kepadatan penduduk serta tidak adanya penggilingan padi di wilayah tersebut.
Kondisi itu berbeda dengan Kabupaten Madiun dan Ngawi, di mana sebagian masyarakat masih menyimpan hasil panen sendiri sehingga kebutuhan beras SPHP relatif lebih rendah.
Dalam mendukung kelancaran distribusi, Bulog Cabang Madiun menggandeng 81 outlet penyalur beras SPHP.
Jaringan tersebut terdiri atas 47 pedagang pasar tradisional, serta toko kelontong, ritel modern, Koperasi Merah Putih, dan saluran distribusi lainnya.
Menurut Agung, keberadaan jaringan outlet tersebut efektif memperluas jangkauan distribusi beras SPHP kepada masyarakat.
“Ini sangat membantu kami mempercepat penyaluran, sehingga masyarakat lebih mudah mengakses beras SPHP,” imbuhnya.
Agung memastikan, hingga saat ini penyaluran beras SPHP berjalan tanpa kendala berarti.
Sejak jaringan distribusi kembali dibuka dan dimulai dari Kota Madiun, penyaluran berkembang pesat ke berbagai saluran.
Dukungan dari dinas perdagangan (Disdag) serta dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP), khususnya untuk penyaluran di luar pasar tradisional, turut memperkuat realisasi.
Secara persentase, realisasi penyaluran beras SPHP tahun ini telah mencapai sekitar 77 persen.
Dengan laju distribusi harian di kisaran 180–200 ton, Bulog optimistis capaian realisasi dapat menembus angka 80 persen hingga akhir tahun.
Terkait harga jual, Agung menegaskan beras SPHP dipasarkan sesuai ketentuan, yakni Rp 60 ribu per kemasan lima kilogram atau Rp 12 ribu per kilogram.
Harga tersebut masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kilogram.
“Kami belum pernah menemukan SPHP dijual di atas HET. Pasokan selalu kami jaga, dan pembatasan pembelian dua ton per hari tetap fleksibel. Jika habis, pedagang bisa memesan kembali keesokan harinya,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto