Jawa Pos Radar Madiun – Peran Perum Bulog tahun ini tak lagi sebatas mendistribusikan beras.
Bulog kini juga dibebani tugas sebagai distributor MinyaKita dari produsen langsung ke pengecer guna mengontrol stabilitas harga minyak goreng (migor) rakyat.
Selain Bulog, penyaluran MinyaKita turut melibatkan ID Food dan Agrinas Palma Nusantara, dengan porsi 35 persen dari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) nasional.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Madiun, Agung Sarianto, mengatakan skema baru tersebut membuat distribusi MinyaKita lebih rutin dan terkontrol.
Tujuannya, menjaga harga tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.
“Bulog diwajibkan menyalurkan langsung ke pengecer, bukan ke distributor,” ujarnya, kemarin (4/1).
Agung menjelaskan, kuota MinyaKita untuk Bulog Madiun masih menunggu penetapan dari pusat.
Namun, volumenya dipastikan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang masih bersifat parsial.
“Jika kuota turun Januari ini, kami prioritaskan penyaluran ke pasar SP2KP dan jaringan pengecer,” terangnya.
Selain MinyaKita, Bulog Cabang Madiun juga mencatat tren positif penjualan beras premium Sentra Ramos.
Produk beras kemasan lima kilogram seharga Rp 72.500 itu menjadi salah satu penopang utama kinerja komersial Bulog.
“Dari sisi penjualan komersial, Cabang Madiun menempati peringkat kedua tertinggi se-Jawa Timur,” kata Agung.
Sepanjang 2025, Bulog Cabang Madiun membukukan omzet sekitar Rp 80 miliar dari penjualan beras premium, MinyaKita, gula, serta komoditas pangan lainnya.
Pada 2026, target penjualan diproyeksikan meningkat seiring penguatan peran Bulog dalam distribusi pangan strategis. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto