Jawa Pos Radar Madiun – Wali Kota Madiun Maidi menegaskan kebijakan penataan kabel udara dan tiang jaringan di wilayahnya.
Seluruh pengusaha jaringan internet dan provider telekomunikasi wajib patuh pada aturan baru: satu titik maksimal dua tiang.
Penegasan itu disampaikan Maidi saat memimpin rapat koordinasi bersama perusahaan jaringan telekomunikasi dan internal pemkot di GCIO, Kamis (8/1).
Sebanyak 12 perusahaan jaringan telah menyatakan komitmen mengikuti kebijakan penataan terpadu tersebut.
“Yang di tepi jalan dan di mana-mana itu tidak boleh banyak cagak (tiang). Maksimal dua. Kita tarik yang rapi,” tegas Maidi.
Namun, orang nomor satu di Kota Madiun itu memastikan tidak ada toleransi bagi perusahaan yang tidak kooperatif.
Provider yang mangkir dari undangan pemkot hingga tiga kali dipastikan akan ditertibkan, bahkan berujung pemutusan jaringan.
“Kalau diundang tidak datang, berarti tidak butuh kita dan tidak peduli perkembangan kota. Yang tidak hadir, berarti tidak mengikuti keputusan hari ini,” ujarnya.
Maidi juga mengungkapkan bahwa selama ini hampir seluruh jaringan kabel udara terpasang tanpa izin resmi dan tidak memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD).
“Izinnya tidak ada semua. PAD nol. Padahal perputaran ekonomi dari jaringan ini mencapai Rp 2,8 triliun per tahun,” ungkapnya.
Menurut Maidi, penertiban bukan semata mengejar PAD, melainkan menjaga estetika dan wajah kota.
Ia menilai, jumlah tiang jaringan yang kian menjamur telah merusak pemandangan.
“Kalau satu ya rapi. Sekarang jadi ada lima, ya ruwet. Kota ini bicara mendunia, tidak boleh awut-awutan,” tegasnya.
Penataan jaringan ditargetkan rampung dalam waktu singkat.
Seluruh perangkat pendukung seperti box culvert dan aturan teknis disebut sudah tersedia.
“Saya tidak mau lama-lama. Sudah ada box culvert, sudah ada aturan, tinggal jalan,” katanya.
Selain penataan fisik, Maidi mendorong kontribusi sosial dari pengusaha jaringan, mengingat kabel mereka melintas di kawasan permukiman, termasuk wilayah masyarakat kurang mampu.
“Bisa lewat JKK, JKM, beasiswa anak-anak tidak mampu, atau asuransi. Jaringannya lewat rumah warga miskin, ya harus ada kontribusinya,” tandasnya.
Maidi optimistis, kota yang semakin rapi dan tertata akan meningkatkan daya tarik Kota Madiun dan berdampak positif pada perekonomian daerah.
“PAD itu nanti mengikuti. Yang utama kota ini tertata cantik dulu,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto