MADIUN – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun terus mematangkan peran kehumasan organisasi.
Upaya itu dilakukan melalui Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kehumasan tingkat intermediate yang digelar selama dua hari di Graha Krida Budaya, Jalan Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo.
Diklat tersebut diikuti jajaran humas cabang PSHT se-Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi organisasi dalam memperkuat fungsi humas sebagai garda depan penyampai informasi kepada warga PSHT maupun masyarakat luas.
Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, R. Moerdjoko HW, menjelaskan bahwa pelatihan kehumasan dilakukan secara bertahap.
Tahap awal difokuskan bagi cabang di Jawa Timur sebelum diperluas ke cabang luar daerah.
“Selama dua hari ini kami melaksanakan Diklat Kehumasan level intermediate untuk humas cabang se-Jawa Timur. Tahap berikutnya baru cabang-cabang di luar Jawa Timur,” ujarnya, Sabtu (10/1).
Moerdjoko menegaskan, penguatan kapasitas humas menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi.
Humas dituntut mampu menyampaikan informasi organisasi secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
“Harapannya, humas PSHT mampu memberikan informasi yang benar tentang organisasi, baik kepada warga maupun masyarakat,” tegasnya.
Senada, Ketua Dewan Pusat PSHT, H. Issoebiantoro, menyebut humas memiliki peran strategis sebagai corong utama organisasi.
Melalui diklat ini, humas diharapkan mampu menyampaikan kegiatan PSHT secara positif, transparan, dan profesional.
“Kami ingin humas menjadi penyampai berita-berita baik dan kegiatan Persaudaraan Setia Hati Terate dengan cara yang benar,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan sistem kehumasan sejalan dengan nilai-nilai luhur PSHT yang menjunjung tinggi budi pekerti, etika, serta koordinasi organisasi.
Apalagi, PSHT kini telah berkembang hingga ke luar negeri.
“Karena cabang sudah tersebar di dalam dan luar negeri, sistem kehumasan harus terkoordinasi dan satu pintu,” jelasnya.
Issoebiantoro juga menekankan pentingnya etika publikasi di era media sosial, khususnya terkait kesakralan latihan dan ajaran PSHT.
Menurutnya, humas perlu dibekali pemahaman yang tepat agar nilai-nilai Terate dapat disampaikan secara profesional dan proporsional.
“Humas harus paham bagaimana menyampaikan ajaran Terate dengan tepat dan profesional,” pungkasnya. (her)
Editor : Hengky Ristanto