Jawa Pos Radar Madiun – Jumat (9/1) sore, Jalan Ki Ageng Selo, Gang Pingi III, Kelurahan Kanigoro, mendadak sesak.
Gang sempit itu dipenuhi warga yang antre berburu sayur dan buah murah di Rumah Grosir Vita.
Di tengah keramaian, Vita Purwati nyaris tak berhenti bergerak.
Terong, timun, alpukat, hingga durian silih berganti berpindah dari keranjang ke timbangan.
Tangannya cekatan, suaranya bersahutan melayani pembeli.
Senyum sesekali mengembang saat pelanggan lama—kebanyakan ibu rumah tangga dan reseller kecil—menyapa.
Usaha Vita bermula delapan tahun lalu. Lulusan SMKN 1 Jiwan itu awalnya hanya menjadi reseller sayur.
Modalnya sederhana: belanja di pasar lalu dijual kembali ke lingkungan sekitar.
“Dulu cuma kecil-kecilan, belum kayak sekarang,” katanya.
Empat tahun lalu, Vita memberanikan diri membuka Rumah Grosir Vita.
Lapaknya sempat berpindah dari Rejomulyo sebelum akhirnya menetap di Kanigoro dua tahun terakhir.
Pasokan sayur dan buah didatangkan rutin dari Pasar Ngronggo, Kediri.
Strateginya sederhana namun efektif. Vita membuat paket murah agar pembeli bisa menjual ulang.
Terong, timun, dan labu Jepang dipaketkan 3 kilogram Rp 10 ribu.
Buah seperti salak, alpukat, dan rambutan juga dijual dengan skema serupa.
“Biar reseller untung dan barang cepat keluar,” ujarnya.
Durian menjadi magnet tersendiri. Harganya dibanderol mulai Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu per buah.
Khusus durian Rp 30 ribu, Vita berani memberi garansi.
“Kalau jelek, boleh tukar. Dicoba di sini,” katanya.
Tak hanya sayur dan buah, lapak ini juga menyediakan frozen food.
Mulai ayam utuh 1,2 kilogram Rp 32 ribu, hati-ampela dua kilogram Rp 15 ribu, hingga ikan gurame Rp 29 ribu.
Rumah Grosir Vita buka setiap hari. Namun pasokan besar datang tiap Senin, Rabu, dan Jumat mulai pukul 15.00 hingga malam.
Kini Vita dibantu dua karyawan. Dalam sehari, sekitar satu ton sayur dan buah bisa habis terjual.
Media sosial menjadi senjata utama. Update rutin di TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp membuat lapaknya makin ramai.
“Dari TikTok itu pembelinya nambah banyak,” tuturnya.
Perjalanan usaha tentu tak selalu mulus.
Selama empat tahun berjualan, Vita beberapa kali mengalami kehilangan barang hingga pembeli yang tak membayar sesuai ambilan.
Namun, dia memilih belajar dan terus melangkah.
“Harap jujur. Ambil berapa, bayar berapa,” pesannya.
Bagi pelanggan, harga murah jadi alasan utama.
Sudarmini, 59, warga sekitar, mengaku sudah dua tahun berbelanja di Rumah Grosir Vita.
“Lebih murah daripada pasar. Rumah juga dekat,” katanya.
Sebagian belanjaannya dijual kembali. Keuntungan Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per item sudah cukup menambah pemasukan harian. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto