Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

DKPP Kota Madiun Sulap Limbah Jagung Jadi Pakan Domba, Biaya Peternak Dipangkas

Erlita H • Rabu, 14 Januari 2026 | 10:00 WIB
INOVASI PETERNAKAN: Limbah batang dan daun jagung pascapanen diolah DKPP Kota Madiun menjadi pakan ternak fermentasi untuk domba. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
INOVASI PETERNAKAN: Limbah batang dan daun jagung pascapanen diolah DKPP Kota Madiun menjadi pakan ternak fermentasi untuk domba. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Limbah batang dan daun jagung pascapanen yang selama ini kerap terbuang, kini disulap menjadi pakan ternak bernilai guna.

Inovasi tersebut dikembangkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun sebagai upaya menekan biaya pakan peternak sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Bahan baku pakan berasal dari tanaman jagung program ketahanan pangan Polres Madiun Kota yang ditanam di lahan milik pemkot.

Usai panen, sisa tanaman atau tebon jagung dimanfaatkan menjadi pakan fermentasi untuk domba.

“Jagung yang ditanam kemarin setelah panen, tebonnya dimanfaatkan. Batang dan daun jagung itu dicacah dan diolah menjadi pakan ternak,” ujar Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun Wahyu Niken Febrianti, kemarin (13/1).

Tebon jagung tersebut berasal dari lahan seluas dua hektare di Kelurahan Pilangbango dan Banjarejo.

Seluruh bahan dibawa ke DKPP untuk diolah menjadi Total Mixed Ration (TMR) atau pakan komplit fermentasi khusus domba.

Saat ini, DKPP masih melakukan uji coba pakan TMR untuk 15 ekor domba milik dinas.

Prosesnya dimulai dari pelayuan tebon selama satu hari guna menurunkan kadar air.

Setelah itu, batang dan daun jagung dicacah halus, dicampur polar dan E4, lalu difermentasi selama sekitar satu pekan.

“Hasil fermentasi disimpan dalam drum tertutup rapat agar tidak terkontaminasi udara. Pakan bisa bertahan lebih lama dan siap digunakan kapan saja,” jelas Niken.

Menurutnya, inovasi ini menjadi solusi atas persoalan klasik peternak, yakni tingginya biaya pakan yang selama ini menyedot sebagian besar ongkos produksi.

Pemanfaatan limbah pertanian dinilai lebih ekonomis sekaligus efisien.

“Unsur pakan itu cost-nya sangat tinggi. Karena itu kami dituntut memanfaatkan bahan yang ada di sekitar. Sekaligus menghemat tenaga peternak agar tidak harus setiap hari mencari pakan,” imbuhnya.

Saat ini, fermentasi pakan masih diuji coba secara internal.

Jika hasilnya optimal, teknologi tersebut akan disosialisasikan kepada peternak di Kota Madiun.

Ke depan, formulasi pakan fermentasi juga akan dikembangkan untuk ternak lain seperti kambing dan sapi.

“Dengan teknologi ini, cukup sekali produksi, pakan bisa digunakan beberapa hari. Lebih efisien tenaga dan waktu,” pungkas Niken. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#ketahanan pangan #pakan domba #pakan fermentasi #dkpp kota madiun #tebon jagung #Limbah Jagung #madiun #Inovasi Peternakan