Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

160 Kasus DBD Sepanjang 2025, Awal 2026 Kota Madiun Masih Nihil

Erlita H • Rabu, 14 Januari 2026 | 09:00 WIB
PENGASAPAN: Petugas Dinkes Kota Madiun melakukan fogging untuk mencegah penyebaran DBD di Kelurahan Kartoharjo. DOK RADAR MADIUN
PENGASAPAN: Petugas Dinkes Kota Madiun melakukan fogging untuk mencegah penyebaran DBD di Kelurahan Kartoharjo. DOK RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Puncak musim hujan pada awal 2026 membuat kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD) kembali ditingkatkan.

Curah hujan tinggi dan lingkungan lembap berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama DBD.

Sekretaris Dinkes-PPKB Kota Madiun Endria Triningsih Kusdiana menjelaskan, genangan air akibat hujan menjadi faktor utama munculnya sarang nyamuk.

Genangan tersebut kerap ditemukan pada kaleng bekas, ban bekas, pot bunga, talang air, hingga tempat penampungan air yang tidak tertutup rapat.

“Curah hujan tinggi menyebabkan banyak genangan. Kondisi lembap dan suhu hangat membuat telur nyamuk lebih cepat menetas,” ujarnya kemarin (13/1).

Menurut Endria, peningkatan populasi nyamuk seiring dengan naiknya risiko penularan virus dengue, terutama di wilayah padat penduduk dengan mobilitas warga yang tinggi.

Namun demikian, kewaspadaan masyarakat dinilai masih fluktuatif, khususnya dalam penerapan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.

“Masih ditemukan warga yang tidak rutin menguras bak mandi atau menutup penampungan air. Padahal ini langkah paling mendasar,” tegasnya.

Meski memasuki puncak musim hujan, hingga 12 Januari 2026 belum ditemukan kasus DBD di Kota Madiun.

Sepanjang 2025, tercatat 160 kasus DBD dan seluruhnya tertangani sesuai standar pelayanan kesehatan.

“Jumlah itu turun 72,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Endria.

Penurunan kasus dipengaruhi berbagai faktor.

Mulai dari kondisi cuaca, pengendalian vektor yang lebih masif, penguatan surveilans, hingga meningkatnya partisipasi masyarakat dalam PSN.

Dalam upaya pengendalian, Dinkes-PPKB mengoptimalkan surveilans aktif melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), laporan rumah sakit, serta laporan masyarakat dan kader kesehatan.

Setiap temuan kasus langsung ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi.

“Fogging hanya dilakukan jika ada indikasi penularan lokal dan tetap disertai edukasi perilaku hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Sejumlah program pencegahan terus digencarkan. Di antaranya Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), kampanye PSN 3M Plus berkelanjutan, serta koordinasi lintas sektor hingga tingkat RT/RW.

Endria mengimbau masyarakat lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan PSN 3M Plus secara rutin.

“Satu genangan kecil bisa menjadi sumber ratusan nyamuk. Pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing,” pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#kesehatan lingkungan #DBD Kota Madiun #PSN 3M Plus #musim hujan Madiun #DBD 2026 #fogging dbd #madiun #kasus dbd 2025