Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Program Kawista Winongo Kota Madiun Jadi Magnet Dunia, WNA Belajar Bank Sampah hingga Batik

Erlita H • Kamis, 15 Januari 2026 | 04:30 WIB
BELAJAR DARI WARGA: WNA asal Australia mengikuti aktivitas daur ulang di Bank Sampah Matahari, Kelurahan Winongo, Kota Madiun. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
BELAJAR DARI WARGA: WNA asal Australia mengikuti aktivitas daur ulang di Bank Sampah Matahari, Kelurahan Winongo, Kota Madiun. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun kian menegaskan diri sebagai ruang belajar lintas negara.

Melalui program Kelompok Sadar Wisata (Kawista), Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, kembali menjadi tujuan warga negara asing (WNA) yang ingin belajar langsung potensi lokal berbasis masyarakat.

Kawista Winongo mengusung tiga program unggulan, yakni pengelolaan bank sampah, batik, dan Kampung Inggris.

Awal tahun ini, seorang WNA asal Australia, Niko, mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Niko yang berlatar belakang pendidikan arsitektur tertarik mendalami pengelolaan bank sampah yang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Bank Sampah Matahari menjadi lokasi utama pembelajaran karena dikenal sebagai pionir pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Madiun.

Plt Lurah Winongo Dian Puspita mengatakan, program Kawista telah berjalan selama dua tahun terakhir.

Total sudah 14 WNA mengikuti program dengan rata-rata masa tinggal sekitar 10 hari.

“Mulai tahun ini program Kawista sudah berbayar. Tarifnya lima dolar per hari dan dikelola melalui Kawista yang berperan sebagai Koperasi Merah Putih,” ujarnya, kemarin (14/1).

Khusus Niko, ia mengambil paket selama 12 hari.

Selama mengikuti program, jadwal kegiatan disusun sejak pagi hingga siang hari.

Ia juga tinggal di rumah warga, sejalan dengan konsep wisata berbasis masyarakat yang diusung Kawista.

Dalam waktu dekat, Kelurahan Winongo kembali bersiap menyambut WNA lain.

Masih di bulan yang sama, tiga WNA asal Spanyol, India, dan Irlandia dijadwalkan datang.

Nama Winongo mulai dikenal secara internasional melalui platform Worldpackers, jejaring global pertukaran kerja sukarela.

Ke depan, Pemkot Madiun berencana mengembangkan kerja sama wisata edukasi dengan PT Kereta Api Indonesia serta menggandeng Hotel Mercure untuk menyusun paket wisata Kawista.

“Kelompok sadar wisata ini dibentuk oleh masyarakat. Potensi kelurahan diangkat dan dikenalkan ke dunia internasional,” imbuh Dian.

Sementara itu, Direktur Induk Bank Sampah Kota Madiun Siam Sumartini menjelaskan, agenda Niko mencakup pengenalan sistem bank sampah hingga praktik langsung daur ulang.

Mulai pembuatan tas dari plastik kresek, sapu dari botol plastik, pupuk organik, hingga berbagai produk ekonomi kreatif berbasis sampah.

“Kegiatan di bank sampah berlangsung setiap hari pukul 08.00 sampai 12.00,” jelasnya.

Niko mengikuti program di Bank Sampah Matahari sejak 9 hingga 18 Januari.

Menurut Siam, masyarakat Winongo yang terdampak keberadaan TPA turut dilibatkan aktif dalam pengolahan dan pengurangan sampah melalui sistem daur ulang.

Tahun ini menjadi kali pertama Bank Sampah Matahari menerima kunjungan turis asing.

Namun, pada periode Juli hingga November mendatang, sudah tercatat WNA dari 12 negara yang dijadwalkan berkunjung.

Di antaranya Inggris, Jepang, Korea, Meksiko, Kanada, Swedia, Amerika Serikat, dan Pakistan.

“Bukan hanya sistem bank sampahnya, tapi kreativitas daur ulangnya. Di sini kami kembangkan menjadi ekonomi kreatif dan ekonomi sirkular,” ungkapnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#kampung wisata #daur ulang sampah #wisata berbasis masyarakat #wisata edukasi madiun #kota madiun #wna di madiun #kawista winongo #bank sampah matahari #ekonomi sirkular