Jawa Pos Radar Madiun – Keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan tak menyurutkan upaya Pemkot Madiun menjaga ketahanan pangan.
Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun, digulirkan inovasi Sekolah Lapangan Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Berkelanjutan (Selapanan) sebagai solusi urban farming berkelanjutan.
Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun Wahyu Niken Febrianti menjelaskan, Selapanan dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan dari sisi produksi.
Program yang berjalan sejak 2023 itu fokus meningkatkan kapasitas pelaku usaha pertanian, peternakan, dan perikanan melalui edukasi budidaya yang tepat dan aplikatif.
“Selapanan itu singkatan sekolah lapang pertanian, peternakan, dan perikanan. Memang yang paling banyak terekspos pertanian,” ujarnya, kemarin (18/1).
Secara filosofi, istilah selapanan merujuk usia 35–40 hari, fase kritis dalam siklus tanaman dan ikan.
Pada fase ini, pendampingan dilakukan lebih intensif agar pelaku usaha cermat dalam perawatan budidaya dan pengambilan keputusan di lapangan.
Pendampingan Selapanan melibatkan instruktur, praktisi, hingga akademisi.
Kegiatan dilaksanakan rutin sepekan sekali selama tiga bulan.
Materi meliputi pengolahan lahan, pemilihan benih, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit berbasis kondisi aktual.
Program tersebut menyasar 38 kelompok tani, 13 kelompok peternakan, dan 27 kelompok perikanan.
Selain teknik budidaya, Selapanan juga menekankan pengambilan keputusan berbasis pengamatan lapangan.
Salah satu implementasinya ialah sekolah lapang pengendalian hama tikus, organisme pengganggu utama tanaman padi, dengan pendekatan pengendalian hayati melalui pemanfaatan burung hantu.
DKPP juga mengembangkan sekolah lapang pengamat tanaman, budidaya ikan nila sistem bioflok, serta program penggemukan (fattening) ternak.
“Petani kami dorong mengamati dulu kondisi lapangan sebelum bertindak. Supaya pengendalian selektif dan tepat,” pungkas Niken. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto