KOTA MADIUN – Gejolak ekonomi global berpotensi memberi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Madiun pada 2026.
Meski demikian, capaian pertumbuhan di kisaran 6 persen dinilai masih realistis dan tergolong baik di tengah ketidakpastian global.
Pengamat ekonomi Universitas PGRI Madiun (Unipma), Anggita Langgeng Wijaya, menyebut kondisi politik dan ekonomi dunia yang tidak stabil, termasuk dinamika kebijakan Amerika Serikat, berpotensi berdampak pada perekonomian nasional hingga daerah.
“Kalau ekonomi Kota Madiun bisa tumbuh sampai 6 persen di 2026, itu sudah cukup bagus,” ujarnya, Senin (26/1).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Madiun, pertumbuhan ekonomi Kota Madiun secara year on year (y-on-y) tercatat 5,8 persen pada triwulan I 2025.
Meningkat menjadi 6,3 persen pada triwulan II, lalu melambat ke angka 5,6 persen pada triwulan III.
Langgeng menilai perlambatan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan dinamika internal daerah.
Salah satunya, kasus operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Wali Kota Madiun Maidi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan pelaku usaha serta kesinambungan kebijakan pembangunan ekonomi.
Menurutnya, sektor pariwisata masih menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi Kota Madiun.
Kawasan Pahlawan Street Center (PSC) dinilai tetap menjadi magnet kunjungan wisata yang menggerakkan sektor perdagangan, perhotelan, dan UMKM.
“PSC masih menjadi titik utama penggerak ekonomi Kota Madiun,” jelasnya.
Namun demikian, Langgeng mengingatkan ketergantungan pada satu kawasan wisata berisiko membatasi dampak ekonomi secara luas.
Karena itu, ia mendorong penyebaran destinasi wisata ke seluruh kecamatan agar efek berganda lebih merata dan UMKM lokal ikut terdongkrak.
Sejumlah pengembangan destinasi, seperti kawasan Bantaran Sungai Madiun, Piramida Giza di TPA Winongo, hingga kampung-kampung tematik Jepang, Korea, Arab, dan Inggris dinilai memiliki potensi besar.
Pengembangan tersebut, menurutnya, perlu didukung promosi masif, transportasi penghubung yang memadai, serta penguatan pusat oleh-oleh dan kuliner khas daerah.
“Pariwisata harus berkelanjutan. Infrastruktur harus dirawat, promosi digital diperkuat, kuliner khas diperbanyak, dan tata kelola seperti parkir harus jujur. Itu kunci agar ekonomi benar-benar bergerak,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto