Jawa Pos Radar Madiun – Dari sebuah warung kopi di kompleks perumahan PG Kanigoro, lahir komunitas seni-budaya bernama Kongan Cooperative.
Berdiri sejak 2022, Kongan tumbuh sebagai komunitas hibrida yang bergerak di bidang sosial, seni, dan kebudayaan, dengan fokus awal pada pengarsipan, riset, serta tata kelola kesenian di wilayah Madiun dan sekitarnya.
Komunitas ini diinisiasi dua pemuda Madiun, Gizza Ardhana sebagai Direktur Program dan Sapta Rahita sebagai Direktur Artistik.
Seiring waktu, Kongan menyesuaikan arah geraknya mengikuti dinamika sosial serta perkembangan sebaran informasi seni-budaya, baik melalui riset maupun praktik langsung di tengah masyarakat.
Kongan aktif menjalin kolaborasi dengan desa-desa yang ingin mengembangkan potensi lokal berbasis seni dan budaya.
Inisiasi kegiatan kerap melibatkan pemangku kebijakan setempat, terutama dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis kebudayaan.
Nama Kongan sendiri, menurut Gizza, tidak memiliki makna filosofis khusus.
Istilah tersebut diambil dari sebutan warga sekitar untuk warung kopi tempat mereka dulu kerap berkumpul.
“Kongan itu pelafalannya enak, unik, dan mudah diingat. Ditambah kata Cooperative karena kami bekerja secara kolektif,” ujarnya.
Sebagai komunitas hibrida, Kongan tidak membatasi ruang kerja maupun latar belakang anggotanya.
Ruang lintas generasi dibuka, dari anak muda hingga generasi tua, dengan spektrum kegiatan yang luas.
Mulai kesenian adiluhung, kontemporer, riset, pengarsipan, hingga aktivitas sosial.
Saat ini, Kongan memiliki 13 anggota dengan sistem kerja desentralisasi.
Setiap anggota memiliki otonomi dalam berproses dan berkarya.
Aktivitas komunitas tersebar di dua lokasi utama, yakni di Jalan Salak, Kelurahan Taman, Kota Madiun, serta Jalan Argomulyo, Desa Kertosari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.
Sejumlah kegiatan telah digelar Kongan Cooperative.
Di antaranya Festival Kultur dan Kolektivitas (Kultiva) Kertosari yang mengusung residensi, pameran, dan pengembangan potensi desa.
Kongan juga terlibat dalam Abraca Nawasena di Desa Ketandan, Kenduri Seni Nusantara Mojorejo, serta rutin menggelar forum diskusi “Diruh-ruhi” di berbagai wilayah Jawa Timur.
“Awal tahun ini kami mulai mengarah ke isu hijau, konservasi lingkungan, ekologi, hingga crafting kayu,” jelas Gizza.
Sebagai komunitas non-profit, seluruh pendanaan kegiatan Kongan berasal dari swadaya anggota.
Selama empat tahun berproses, banyak pengalaman berkesan yang dialami.
Salah satunya saat menggelar bedah buku Reset Indonesia di Pasar Pundensari pada Desember 2025.
Kegiatan tersebut sempat dibubarkan aparat setempat, namun akhirnya tetap dilanjutkan di lokasi lain di Kecamatan Taman.
“Dari situ kami belajar bagaimana mengkurasi sebuah peristiwa, termasuk membaca konteks sosial di lapangan,” tandas Gizza. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto