KOTA MADIUN – Dua kasus bunuh diri terjadi di Kota Madiun dalam rentang waktu kurang dari sepekan.
Peristiwa pertama terjadi di Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kamis (30/1).
Disusul kejadian serupa di Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Selasa (3/2).
Psikolog Klinis RSUD dr. Soedono Madiun, Hana Uswatun Hasanah, menjelaskan bahwa tindakan bunuh diri umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ada proses panjang yang dipengaruhi berbagai faktor internal maupun eksternal.
Faktor internal meliputi kepribadian yang rentan, riwayat gangguan jiwa dalam keluarga, penyakit menahun, hingga penyalahgunaan zat seperti narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.
Sementara faktor eksternal antara lain pengalaman traumatis, tekanan ekonomi, jeratan pinjaman online, judi online, serta minimnya keterbukaan dengan lingkungan sekitar.
“Tekanan hidup di era serba instan juga berpengaruh. Segala sesuatu ingin cepat. Ketika ada hambatan kecil, emosi menjadi mudah meledak,” ujar Hana kepada Jawa Pos Radar Madiun.
Hana mengungkapkan, gejala depresi dapat dikenali dari perubahan perilaku yang cukup mencolok.
Di antaranya kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mengabaikan perawatan diri, gangguan pola makan dan tidur, serta munculnya kecemasan berlebihan.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren depresi justru bergeser ke kelompok usia muda, mulai remaja hingga dewasa awal.
Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya yang lebih banyak dialami kelompok usia dewasa.
“Saat ini usia muda lebih rentan, terutama karena kecemasan,” imbuhnya.
Upaya pencegahan, lanjut Hana, dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental, mengatur pola makan dan istirahat, serta kemampuan mengelola stres.
Pada kondisi depresi ringan, pendekatan spiritual dan dukungan keluarga dinilai cukup membantu.
Masyarakat juga diimbau memanfaatkan layanan konseling kesehatan mental yang tersedia di fasilitas kesehatan, baik psikolog di puskesmas maupun rumah sakit.
Selain itu, tersedia pula layanan hotline darurat kesehatan mental Kementerian Kesehatan yang dapat diakses 24 jam.
“Jika melihat tanda-tanda tersebut, segera cari bantuan tenaga profesional agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat,” pungkas Hana. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto