MADIUN – Kota Madiun mengalami deflasi pada Januari 2026. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik Kota Madiun, secara bulanan (month to month/m-to-m) deflasi tercatat 0,23 persen.
Dari sepuluh kabupaten/kota pantauan inflasi di Jawa Timur, hanya Sumenep yang masih mencatat inflasi.
Statistisi Ahli Muda BPS Kota Madiun Emy Vidayanti menjelaskan, deflasi Januari terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,48 persen dengan andil deflasi 0,42 persen.
“Komoditas hortikultura memberikan andil cukup besar terhadap deflasi,” ujarnya, Rabu (4/2).
Sejumlah komoditas utama penyumbang deflasi tercatat turun signifikan.
Cabai rawit anjlok 23,28 persen, bawang merah turun 18,51 persen, daging ayam ras 5,95 persen, serta telur ayam ras 4,15 persen.
Penurunan juga terjadi pada cabai merah (38,75 persen), wortel (13,69 persen), kangkung (17,86 persen), tomat (8,76 persen), dan brokoli (13,99 persen).
Selain pangan, bensin ikut menekan indeks harga konsumen dengan penurunan 0,60 persen.
Namun, deflasi tertahan oleh sejumlah komoditas yang justru mengalami inflasi.
Di antaranya tarif jalan tol naik 10,98 persen, emas perhiasan 7,08 persen, serta beras 0,49 persen.
Kenaikan harga juga tercatat pada ikan bakar, pepaya, bawang putih, asisten rumah tangga, ongkos laundry, sepeda motor, dan apel.
Menurut Emy, turunnya harga komoditas hortikultura tak lepas dari faktor musim.
Analisis cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan curah hujan di Jawa Timur pada dasarian kedua dan ketiga relatif rendah hingga menengah.
Kondisi tersebut mendukung produktivitas pertanian sehingga pasokan melimpah di pasaran.
Meski demikian, BPS mengingatkan potensi tekanan inflasi pada Februari mendatang.
Sebab, pertengahan Februari sudah memasuki bulan Ramadan yang biasanya diikuti peningkatan permintaan masyarakat.
“Permintaan biasanya naik saat Ramadan dan Lebaran, sehingga harga berpeluang kembali meningkat,” jelasnya.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kota Madiun tercatat 2,83 persen.
Inflasi yoy tersebut terutama dipicu lonjakan tarif listrik sebesar 37,75 persen.
Namun, Emy menegaskan kenaikan itu bukan akibat kebijakan baru, melainkan efek basis rendah (low base effect) karena adanya diskon tarif listrik pada Januari 2025.
“Januari 2026 sudah tarif normal, sedangkan Januari 2025 masih ada diskon. Dampaknya terlihat besar secara tahunan,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto