Jawa Pos Radar Madiun – Perayaan malam Tahun Baru Imlek di TITD Hwie Ing Kiong, Jalan Cokroaminoto, tetap berlangsung khidmat meski tidak seramai tahun sebelumnya.
Warga Tionghoa tetap menjalankan sembahyang sebagai bagian dari tradisi menyambut tahun baru, Senin (16/2) malam.
Ketua Sie Keagamaan sekaligus Wakil Humas I TITD Hwie Ing Kiong Madiun Martino Liem mengatakan, Imlek bagi masyarakat Tionghoa bukan sekadar pergantian kalender.
Tetapi momentum memulai tahun dengan doa, pengharapan, dan kebajikan.
“Orang Tionghoa mengawali tahun dengan doa, pengharapan, dan kebajikan,” ujarnya, Selasa (17/2).
Martino menyebut Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Dalam tradisi Tionghoa, Imlek menjadi waktu meninggalkan yang lama dan menyambut hal baru.
“Memang seperti itu filosofinya bagi orang-orang Tionghoa maupun di banyak kebudayaan,” katanya.
Di TITD Hwie Ing Kiong, rangkaian ritual Imlek dimulai sejak sepekan sebelumnya.
Diawali dari sembahyang dewa dapur pada Selasa (11/2).
Setelah itu dilakukan pembersihan altar dan rupang.
Martino menegaskan, ritual tetap berjalan meski jumlah warga yang datang tidak sebanyak tahun lalu.
Sebab, Imlek tidak semata soal keramaian.
“Sebab bagi sebagian orang, Imlek bukan soal ramai. Tetapi soal keyakinan,” ungkapnya.
Dalam sembahyang Imlek, ada unsur yang tidak berubah.
Antara lain keluarga, lilin, dan dupa. Lilin merah menjadi simbol penerang.
Dupa dimaknai sebagai jembatan doa.
Selain itu, persembahan Imlek di Indonesia juga banyak menyesuaikan kebudayaan lokal.
Buah-buahan, jajanan, hingga roti-roti memiliki simbol masing-masing.
Apel dimaknai keselamatan. Pir bermakna kelancaran dan kemujuran.
Sementara kue kura-kura berisi kacang hijau melambangkan panjang umur.
Wajik juga menjadi salah satu persembahan yang umum dijumpai.
Maknanya agar keluarga tetap lengket atau guyub rukun.
“Kalau di Tiongkok mereka cenderung sama. Kalau di Indonesia kami sudah menyesuaikan dengan kebudayaan lokal,” kata Martino.
Tahun ini, Imlek memasuki simbol kuda api.
Martino menyebut kuda melambangkan kekuatan, ketangkasan, dan gerak cepat.
Sedangkan api memberi makna semangat yang menyala.
Namun, Martino mengingatkan agar semangat tersebut tetap diimbangi kebijaksanaan.
“Ada kecenderungan energi semangat, push, rush, tapi kita tidak wisdom atau kebijakan sehingga tidak tepat sasaran,” tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto