Jawa Pos Radar Madiun – Penetapan awal Ramadan selalu diwarnai perbedaan setiap tahun.
Tidak terkecuali tahun ini. Berdasarkan pengamatan rukyatul hilal, mayoritas menyatakan posisi hilal masih berada di bawah 2 derajat.
Pemerintah akhirnya menetapkan awal puasa jatuh pada Kamis (19/2).
Kepala Kantor Kemenag Kota Madiun M. Zainut Tamam mengatakan, kondisi tersebut membuat pemerintah harus menunggu hasil rukyatul hilal untuk memastikan awal puasa.
“Berdasarkan sidang isbat, hilal masih di bawah 2 derajat. Kalau di bawah 2 derajat berarti harus melihat rukyatul hilal,” ujarnya, kemarin (17/2).
Tamam berpesan agar masyarakat tidak membesar-besarkan perbedaan awal Ramadan.
Dia mengajak warga saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah agar situasi tetap sejuk dan kondusif.
“Jangan membesar-besarkan perbedaan. Mari saling menghormati,” tegasnya.
Selain itu, Tamam mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan riang dan penuh keikhlasan.
Sebab, Ramadan merupakan momentum memperbanyak ibadah dan meraih ampunan Allah SWT.
Menurutnya, puasa yang dijalankan dengan iman dan ikhlas menjadi jalan penghapus dosa.
“Insya Allah, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita,” tandasnya.
Tamam juga menyinggung momentum hari besar lintas agama yang berdekatan pada Ramadan tahun ini.
Mulai perayaan Imlek, Nyepi pada 19 Maret, hingga Idul Fitri.
Karena itu, dia meminta toleransi antarumat beragama terus dijaga.
“Kalau antar umat beragama rukun, insyaallah negara menjadi aman dan tentram,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto