Jawa Pos Radar Madiun – Pasokan cabai dan sejumlah komoditas sayur di Jawa Timur menurun sejak sebelum Ramadan hingga mendekati Lebaran.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga di sejumlah pasar.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Heru Suseno mengatakan berkurangnya pasokan terjadi di beberapa pasar induk.
Salah satunya di Pasar Pare, Kediri.
Biasanya pasar induk tersebut menerima pasokan sekitar 30 ton cabai dan sayur setiap hari.
Namun saat ini jumlahnya hanya sekitar 20 ton.
’’Artinya memang pasokannya berkurang. Ini yang kemudian memengaruhi harga di pasar,’’ ujarnya kemarin (6/3).
Menurut Heru, kondisi tersebut bersifat sementara.
Pasokan diperkirakan kembali meningkat pada akhir Maret seiring mulai panennya cabai di sejumlah daerah dataran tinggi.
’’Nanti akhir Maret sudah mulai panen. Biasanya setelah itu harga akan kembali normal,’’ jelasnya.
Selain faktor pasokan, peningkatan permintaan menjelang Lebaran juga turut memengaruhi pergerakan harga di pasar.
Untuk menekan kenaikan harga, pemerintah daerah melakukan sejumlah langkah.
Di antaranya operasi pasar serta program gerakan pangan murah.
’’Operasi pasar difokuskan di sejumlah pasar yang menjadi indikator penghitungan inflasi atau pasar SP2KP,’’ ungkapnya.
Selain itu, pemprov juga menggelar gerakan pangan murah di sejumlah daerah.
Kegiatan tersebut melibatkan organisasi perangkat daerah seperti dinas perdagangan, peternakan, dan perikanan di kabupaten/kota.
’’Kalau dari pemprov ada sekitar 15 titik gerakan pangan murah. Saat ini sudah berjalan di beberapa lokasi,’’ katanya.
Heru menambahkan pemprov juga membuka peluang kerja sama antar daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan.
Namun jika pasokan secara umum masih terbatas, distribusi dari satu daerah ke daerah lain tidak akan terlalu signifikan menurunkan harga.
’’Kalau total pasokannya memang belum kembali normal, pengaruhnya juga tidak terlalu besar,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto