Jawa Pos Radar Madiun – Harga cabai rawit di sejumlah pasar Kota Madiun melonjak tajam.
Banderol bumbu dapur tersebut bahkan telah melampaui harga acuan penjualan (HAP).
Di Pasar Besar Madiun misalnya, harga cabai rawit mencapai Rp 90–92 ribu per kilogram.
Sedangkan di Pasar Sleko tembus sekitar Rp 120 ribu per kilogram.
Padahal harga normal cabai rawit merah berkisar Rp 40–60 ribu per kilogram.
Untuk pembelian eceran, uang Rp 5 ribu hanya mendapatkan sekitar lima hingga delapan biji cabai.
Menghadapi kondisi tersebut, pemkot memperbanyak gerakan pangan murah maupun operasi pasar dua pekan sebelum Lebaran.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan harga cabai rawit dan sejumlah bahan pokok lain di pasaran.
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun meminta dinas perdagangan melaporkan perkembangan harga kebutuhan pokok setiap hari.
’’Yang terpenting bagi kami adalah pasokan bahan pokok aman dan harga tetap stabil,’’ jelasnya, Sabtu (6/3).
Bagus mengakui cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang paling sering memicu kenaikan harga.
Karena itu, pemkot melakukan intervensi melalui program gerakan pangan murah.
’’Kegiatan pasar murah di kota hampir setiap hari dilakukan oleh dinas ketahanan pangan dan peternakan,’’ ujarnya.
Selain itu, pemkot juga menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah untuk menjaga pasokan cabai.
Di antaranya dengan wilayah Kediri, Magetan, dan Blitar.
’’Karena kami tidak memiliki lahan pertanian luas, maka kebutuhan bahan pokok harus dipenuhi melalui kerja sama dengan daerah sekitar,’’ kata Bagus.
Pemkot juga menyiapkan skema subsidi jika terjadi lonjakan harga yang signifikan.
Namun, subsidi tersebut akan diberikan jika inflasi menunjukkan kenaikan cukup tinggi.
’’Kami sudah menyiapkan program untuk membantu masyarakat jika harga bahan pokok melonjak,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto