KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Keberadaan terowongan bawah tanah peninggalan pemerintahan Hindia Belanda masih membuat Pemkot Madiun penasaran. Untuk mengungkap teka-teki tersebut, pemkot bakal melakukan kajian. Tim ahli cagar budaya dari Universitas Gadjah Mada lantas digandeng. ‘’Terowongannya ada. Tapi, harus dikaji ahli cagar budaya dulu,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi kemarin (28/7).
Usaha untuk menelusuri bangunan terowongan itu sempat diupayakan Maidi hingga ke Belanda. Di negeri kincir angin tersebut, Maidi sempat mendatangai perpustakaan nasional di Den Haag untuk mencari arsip yang bisa dijadikan sebagai rujukan.
Dari segelintir dokumen maupun informasi yang diperolehnya, Maidi menyebutkan bahwa ada lorong bawah tanah yang menghubungkan antara kantor Bakorwil I Madiun, balai kota hingga ke perempatan tugu. ‘’Untuk memastikannya perlu dilakukan kajian. Nanti akan dikerjakan bersama dengan tim dari UGM,’’ kata mantan Sekda Kota Madiun itu.
Jikan ditemukan, kata Maidi, terowongan tersebut akan menjadi aset berharga Kota Madiun. Pun, dia sudah berangan-angan akan melakukan eksploitasi sebagai bentuk pelestarian cagar budaya. ‘’Semua potensi wajib dioptimalkan. Ini akan menjadi daya tarik Kota Madiun,’’ ujarnya.
Sementara, Sejarawan UGM Sri Margana menuturkan, perlu penilitian untuk membuktikan keberadaan terowongan peninggalan pemerintahan Hindia Belanda itu. Pihaknya berencana berangkat ke Kota Madiun untuk penelitian lebih lanjut.
‘’Kami belum dapat memastikan karena perlu penilitian untuk membuktikan itu,’’ jelasnya, kepada Jawa Pos Radar Madiun.
Menurut Margana, konservasi cagar budaya penting dilakukan. Pihaknya meminta pemkot tidak mengubah struktur bangunan yang masuk sebagai cagar budaya.
Termasuk, membangun gedung permanen di atas bangunan bersejarah tanpa melibatkan ahli cagar budaya. ‘’Tidak boleh mengubah struktur bangunanya. Boleh kalau hanya dilakukan alih fungsi. Dijadikan museum atau kafe, misalnya,’’ tutur Margana. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani