KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Operasional penyelenggaraan haji khusus jemaah asal Kota Madiun resmi berakhir. Momentum itu ditandai dengan kepulangan empat jemaah yang masuk dalam kelompok terbang (kloter) 85 kemarin dini hari (4/8).
Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kota Madiun Khoirul Kamami mengatakan, setelah ini pihaknya bakal melakukan evaluasi penyelenggaraan haji di tingkat daerah untuk kemudian dilaporkan ke Kanwil Kemenag Jatim.
‘’Evaluasi nanti keseluruhan. Dimulai dari masing-masing daerah. Kemudian, di tingkat provinsi. Dan, selanjutnya, tingkat nasional,’’ katanya.
Kamami mengaku tidak ada masalah berarti dalam penyelenggaraan haji untuk jemaah Kota Madiun. Menurutnya, semua berjalan sesuai yang diharapkan.
‘’Adapun terjadi masalah di Musdalifah itu disebabkan karena dari pihak (pemerintah) Arab Saudi yang telah melakukan penjemputan jemaah. Tapi, pada intinya, semua pelayanan haji tahun ini berjalan baik,’’ ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya memiliki catatan khusus yang nantinya akan disampaikan ke Kanwil Kemenag Jatim. Salah satunya, terkait kebijakan peniadaan pendamping bagi jemaah lanjut usia (lansia). Sementara, dalam rombongan haji di hampir seluruh daerah termasuk Kota Madiun mayoritas di dominasi jemaah lansia dan berisiko tinggi (risti).
‘’Nah, di situ kan menjadi problem. Sehingga, banyak lansia-lansia yang mengalami stres hingga meninggal dunia. Karena memang sejak awal fisiknya sudah bermasalah. Jadi, ini yang menjadi bahan koreksi kami,’’ jelas Kamami, kepada Jawa Pos Radar Madiun.
Sementara untuk musim haji tahun depan, Kota Madiun diperkirakan mendapatkan kuota sekitar 160 kursi. Jumlah itu belum termasuk 120 kursi dari kuota cadangan apabila ada calon jemaah haji yang mengundurkan diri atau meninggal dunia. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani