JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Keberhasilan Pemkot Madiun menangani kasus stunting mendapat atensi istimewa dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kemarin (31/8), wali kota Maidi sampai diminta menjadi narasumber dalam sebuah dialog yang membahas tentang kebijakan pelaksanaan instruksi presiden (Inpres) 3/2022 disela agendanya mengikuti rakornas pengendalian inflasi di Jakarta.
‘’Wali Kota Madiun memiliki seabrek pengalaman serta mampu menjalankan program pemerintah pusat. Kemendagri mengapresiasi apa yang dilakukan pak wali,’’ ujar Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Zanariah.
Dia menilai sosok Maidi dapat menjadi figur bagi kepala daerah lain dalam menjalankan program penanganan stunting. Sebab, Pemkot Madiun dianggap mampu dan berhasil menekan prevalensi stunting hingga di angka 9,7 persen.
Bahkan, capaian tersebut melebihi target angka prevalensi stunting 14 persen yang telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2024.
‘’Pemkot Madiun memiliki inovasi yang cukup hebat sekali. Apalagi, saya apresiasi karena pak wali juga memikirkan gender dengan memperhatikan kesehatan ibu hamil dan balita. Termasuk mencukupi asupan gizi mereka,’’ terangnya.
Selain program pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan balita, lanjut Zanariah, kebijakan pemkot mencegah risiko kelahiran anak stunting juga patut diacungi jempol. Misalnya dengan menggandeng sejumlah stakeholder di Kota Madiun untuk menekan angka kasus pernikahan dini.
‘’Banyak kepala daerah seperti Pak Maidi. Tapi, saat ini Pak Maidi yang bisa menunjukkan kesuksesan melalui inovasi. Baik birokrat maupun pentahelix (multi pihak, Red),’’ katanya.
Sementara itu, wali kota Maidi menegaskan pemkot serius menangani persoalan stunting. Karena masalah gizi kronis pada anak itu dinilainya bisa mempengaruhi kualitas hidup generasi ke depan. Sehingga, menurutnya, pemenuhan gizi dan sejumlah upaya pencegahan stunting diperlukan.
Bahkan, pemkot mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5,4 miliar pada tahun ini khusus untuk penanganan stunting. ‘’Kesehatan ibu hamil dan balita kami pantau. WSS (Warung Stop Stunting) kami dirikan disejumlah titik di setiap kelurahan,’’ terangnya.
Di Kota Madiun, WSS menyasar sekitar 922 jiwa yang terdiri dari anak dan ibu hamil. Perinciannya, 256 jiwa di Kecamatan Manguharjo, 385 di Taman, dan 281 di Kartoharjo. ‘’Angka stunting terus kami tekan agar anak-anak di kota ini selalu sehat dan pintar,’’ ujar mantan Sekda Kota Madiun itu.
Selain mencukupi kebutuhan pokok dan sayuran, sasaran WSS juga dibekali konsumsi makanan siap saji, asupan protein hingga uang saku belanja di lapak UMKM. Pemkot juga memberikan subsidi harga ikan di pasar tradisional bagi ibu hamil atau ibu yang tercatat memiliki balita.
Menurut Maidi, ikan memiliki kandungan protein tinggi. Selain itu, jika dikonsumsi dapat membantu perkembangan otak dan sistem saraf. ‘’Kalau anak-anak kekurangan protein, kecerdasannya akan kurang. Maka pola-pola pemenuhan gizi harus dilakukan,’’ jelasnya. (ggi/her)
WSS
922 jiwa
Manguharjo
116 ibu hamil
140 balita
Taman
172 ibu hamil
213 balita
Kartoharjo
120 ibu hamil
161 balita
Angka Stunting
2021: 12,4 persen
2022: 9,7 persen
Editor : Mizan Ahsani