KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Harga beras di Kota Madiun bertahan di atas eceran tertinggi. Bahkan, menjadi komoditas pemicu inflasi Agustus. Berdasarkan catatan badan pusat statistik (BPS) setempat, beras mengalami inflasi 1,79 persen bulan lalu.
Padahal Juli lalu, sempat tercatat deflasi -0,3. ‘’Kenaikan harga beras di Kota Madiun terjadi sejak Juli lalu,’’ kata Tim Distribusi, Jasa Pariwisata, dan Harga BPS Kota Madiun Ida Ayu Damayanti kemarin (3/9).
Menurut Ida, faktor cuaca menjadi penyebab harga beras mengalami kenaikan. Sehingga, kondisi gagal panen memengaruhi hasil produksi. Sementara permintaan konsumen berjalan tetap. Bahkan, cenderung mengalami kenaikan.
‘’Musim kemarau panjang disinyalir memengaruhi produktivitas pertanian. Khususnya padi,’’ ujarnya.
Meski begitu, inflasi global bulan lalu lebih baik ketimbang Juli. Yakni, tercatat 0,02 persen. Jauh bila dibandingkan inflasi Juli sebesar 0,10. Penurunan inflasi itu imbas penurunan harga sejumlah komoditas pangan sepanjang Agustus.
Di antaranya, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan cabai merah. ‘’Angka inflasi Kota Madiun pada Agustus di bawah inflasi Jawa Timur. Tapi, di atas inflasi nasional di angka -0,02 persen,’’ ungkap Ida.
Analis perdagangan ahli muda Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun Tri Prasetyaningrum tak menampik harga beras di pasaran belakangan merangkak naik.
Misalnya, harga beras medium tembus Rp 11–12 ribu per kilogram (kg). Sementara, harga eceran tertingginya (HET) Rp 10.900 per kilogram. ‘’Harga beras nonsubsidi tembus Rp 12 ribu per kilogramnya. Kalau harga beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) sesuai HET,’’ katanya. (ggi/her)
INFLASI
- Agustus: 0,02 persen
- Juli: 0,10 persen
HARGA BERAS DI KOTA MADIUN
- Harga beras medium: Rp 12.500 per kilogram
- Harga beras premium: Rp 16.000 per kilogram
- Harga beras SPHP: Rp 9.400
DISTRIBUSI BERAS SPHP BULOG
- Pedagang terdaftar: 46 pedagang
- Pedagang menerima (sementara): 26 pedagang
- Sasaran distribusi: 11 pasar tradisional se-Madiun Raya
- Stok beras Bulog Madiun: 2.000 ton
Diolah dari hasil wawancara narasumber
Editor : Mizan Ahsani