KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Komoditas cabai rawit menyumbang inflasi terbesar pada laju inflasi Oktober di Kota Madiun.
Ini karena harga komoditas tersebut naik cukup signifikan di pasaran hingga mencapai Rp 78 ribu per kilogram (kg).
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, kenaikan harga cabai rawit memicu laju inflasi hingga sebesar 29,4 persen (month to month/mtm).
"Harga cabai rawit berjalan fluktuatif. Pada September lalu inflasinya 18,4 persen. Kemudian, menjadi 29,4 persen pada Oktober,’’ kata Ketua Tim Distribusi, Jasa Pariwisata dan Harga BPS Kota Madiun Ida Ayu Damayanti kemarin (4/11).
Selain cabai rawit, laju inflasi Oktober juga dipengaruhi sejumlah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,12 persen. Kemudian, disusul beras 0,09 persen.
"Inflasi Kota Madiun untuk Oktober tercatat 0,22 persen (mtm),’’ ungkapnya.
Menurut Ida, kenaikan cabai rawit terjadi sejak awal bulan lalu. Faktor cuaca ekstrem hingga fenomena gagal panen ditengarai menjadi penyebab stok cabai rawit berkurang.
Kondisi itu diduga menjadi pemicu harga cabai rawit melambung.
"Sementara, kenaikan harga beras mulai terjadi sejak Agutus lalu,’’ jelasnya.
Di sisi lain, ada beberapa komoditas yang menjadi penekan inflasi alias mengalami penurunan harga sepanjang Oktober lalu.
Di antaranya, telur ayam ras, semangka, pepaya, daging ayam ras, minyak goreng, tomat, apel, ayam hidup, keramik dan buah naga.
"Untuk telur ayam ras tercatat sebagai penekan inflasi terbesar di angka -2,46 persen dengan andil -0,02 persen,’’ ujar Ida. (ggi/her)
Editor : Budhi Prasetya