KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Napas Ismoe Rianto adalah menulis. Puluhan tahun sudah dia menuangkan isi kepala menjadi cerita. Sederet karya berhasil dia gubah.
Penghargaan dan apresiasi datang purnawirawan polisi dengan tiga cucu ini.
Ismoe Rianto menjawab pelan salam kedatangan koran ini.
Gurat di wajahnya kian kentara saat tersenyum menyilakan duduk.
Di salah satu sisi dinding rumah warga Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu terpajang sebuah penghargaan.
''Itu anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur pada 2019,'' kata Ismoe.
Ismoe sudah tak mudah lagi. Kendati demikian, baginya tiada hari tanpa berkarya.
Biasanya, dia menulis usai sarapan lalu jalan-jalan di lingkungan sekitar.
Namun, rutinitas itu agak berbeda belakangan ini. Pria kelahiran 21 Agustus 1942 itu kesulitan menulis sendiri.
''Biasa menulis pakai bolpoin, tapi akhir-akhir ini penglihatan bermasalah,'' ungkapnya.
Problem penglihatan tak membuat Ismoe berhenti mengarang. Berupa-rupa ide di kepalanya tetap menjelma menjadi sebuah cerita.
''Saya sampaikan unek-unek ke istri lalu dia yang menulis. Tulisan kemudian diketik cucu sebelum dikirim ke majalah,'' terang suami Sri Handini itu.
Menulis kadung mendarah daging bagi Ismoe. Ayah dua anak ini mulai berkarya saat masih mengenakan seragam polisi di Polda Jatim.
Dia mengarang cerita bersambung (cerbung) Tante Erry di majalah Semeru polda setempat.
''Saya purna pada 1991, tapi menjadi redaktur Semeru sampai 2000,'' ujar kakek 81 tahun itu.
Ismoe lantas keranjingan menulis. Banyak karya dilahirkannya.
Baik cerbung, cerita pendek (cerpen), dongeng, misteri, naskah sandiwara radio, dan artikel lain.
Gubahannya juga menyesaki sejumlah media. Seperti di Jaya Baya, Panjebar Semangat, Jawa Anyar, Punakawan, Damarjati, dan Kumandhang.
Dia berhitung, 100 judul cerpen dan 20 cerbung berbahasa Jawa telah ditulis.
''Saat kecil saya suka membuat catatan harian,'' kenangnya.
Ketekunan Ismoe berkarya berbuah manis. Sejumlah penghargaan datang kepadanya.
Cerpen Tangise Djoemiatoen juara I di acara ulang tahun Jawa Anyar Surakarta pada 1994. Pun, penghargaan yang lain.
Termasuk anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim yang kini disimpan rapi di pigura.
Terbaru, Ismoe didapuk sastrawan dengan pengabdian dan konsisten berkarya lebih dari 50 tahun dari Majalah sastra Jawa Kinasih.
Dia juga mendapat apresiasi dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa.
''Bulan ini juga dapat penghargaan (bantuan pemerintah bidang kebahasaan dan kesastraan 2004, Red),'' tutur Ismoe.
Mampu membuat buku menjadi klimaks bagi seorang penulis. Tak terkecuali Ismoe. Ratusan judul cerita yang berhasil dia dikarang dicetak menjadi buku.
''Baru cetak satu buku, judulnya Tresnaku Mung Sepisan. Itu juga dibantu teman sastrawan lain yang juga dari Madiun," tutupnya. (mg1/den)
Editor : Mizan Ahsani