KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau bukan berarti nihil kasus demam berdarah dengue alias DBD.
Sebaliknya, potensi penyebaran penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu tetap saja ada.
Apalagi, beberapa hari terakhir wilayah Kota Madiun diguyur hujan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) setempat mencatat, ada 504 kasus DBD selama Januari–Juli.
Angka tersebut naik lima kali lipat dibandingkan tahun lalu yang tercatat ada 144 kasus.
‘’DBD memang ada kenaikan kasus. Tidak hanya di Kota Madiun, tren lonjakan terjadi hampir di seluruh daerah,’’ kata Kadinkes-PPKB Kota Madiun dr Denik Wuryani, Minggu (7/7).
Dia membeberkan temuan DBD terbanyak tercatat di Kecamatan Taman dengan 196 kasus.
Kemudian, disusul Manguharjo dengan 173 kasus. Dan, Kartoharjo sebanyak 135 kasus.
‘’Jadi, perlu ditingkatkan kewaspadaan masyarakat,’’ tuturnya.
Lebih lanjut, pihaknya menyebutkan catatan kasus gejala demam dengue yang mengarah ke DBD cukup banyak.
Jumlahnya mencapai 775 kasus.
Rinciannya, sebanyak 318 kasus di Kecamatan Taman, 246 kasus di Manguharjo, dan 211 kasus di Kartoharjo.
‘’DBD merupakan demam dengue tingkat lanjut. Tingkatan di atasnya lagi DSS atau dengue shock syndrome,’’ jelas Denik.
Menurut Denik, cuaca hujan belakangan terakhir bakal menjadi ancaman perkembangbiakan nyamuk serta kasus DBD.
Sehingga, butuh perhatian lebih di tengah lonjakan kasus saat ini.
‘’Selain menerapkan 3M plus, jika anggota keluarganya mengalami demam harus segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,’’ tandasnya. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani