Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Debat Perdana Pilkada Kota Madiun Cenderung Naratif–Asumtif 

Anggiyan Bayu • 2024-10-19 21:19:53
Peneliti Utama The Republic Institute Sufyanto
Peneliti Utama The Republic Institute Sufyanto

Jawa Pos Radar Madiun - Debat cawali-cawali lalu masih kurang gereget. Bahkan, program kerja yang telah disampaikan masing-masing calon dalam acara debat yang digelar pada Rabu (16/10) lalu itu dianggap belum menjawab permasalahan aspek kesejahteraan rakyat.

Peneliti Utama The Republic Institute Sufyanto sempat memberikan komentar pasca debat pasangan calon (paslon) tersebut. Inda Raya Ayu Miko Saputri-Aldi Dwi Prastianto (Dadi) misalnya. Dia menyebut paslon nomor urut 01 tersebut runtut dalam menyampaikan visi, misi, serta program yang diusung.

Namun demikian, dia menilai Dadi masih tampak naratif lantaran kurang menguasai aspek dalam mengambil kebijakan yang lebih teknis. Persoalan ekonomi misalnya. Yang mana, mereka menganggap pemanfaatan ruang hijau yang belum sesuai dengan porsi dan fungsinya.

Selain itu, juga pembahasan terkait pentingnya revitalisasi pasar tradisional. Dengan harapan, agar  masyarakat memiliki minat untuk belanja ke pasar tradisional ketimbang pasar modern, mempromosikan UMKM, membangun sekolah UMKM seperti Solo Techno Park, dan membangun balai latihan kerja.

’’Solusi yang ditawarkan masih cenderung naratif dan asumtif atau belum tampak solusi yang konkret serta teknis yang kelak harus diambil seorang wali kota,’’ ungkap dosen politik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.

Soal penyelesaian masalah sosial yang diusung Dadi, Sufyanto menganggap belum menemui titik solutif. Seperti pengolahan sampah dan persoalan tata kelola operasional ojek online dan ojek pangkalan. ’’Tawaran konkret dan teknis memang harus diambil oleh pemimpin birokrasi ke depan. Karena masyarakat butuh penyelesaian yang nyata bukan hanya wacana,’’ tegasnya.

Di sisi lain, Sufyanto juga mengomentari penampilan pasangan Maidi-F Bagus Panuntun (Madiun) dalam debat publik. Sebagai sosok petahana, dia menilai Maidi cukup menguasai aspek teknis serta regulasinya. Dilihat dari aspek ekonomi, calon incumbent itu tampak sudah biasa dalam mengambil kebijakan penting. Sebagai contoh, menghadirkan replika-replika dunia sebagai magnet wisatawan. Apalagi, Kota Madiun merupakan kota transit dengan keterbatasan sumber daya alam.

’’Dengan demikian multiplier effect-nya besar. Konsep yang dilaksanakan oleh pasangan Madiun ini adalah strategi yang luar bisa baik dari landasan teoritik kajiannya maupun implementasinya. Petahana nyaris tidak ada celah gagasan untuk diperdebatkan,’’ ujarnya.

Sementara itu, Sufyanto menyenbut Bonie Laksmana-Bagus Rizki Dinarwan (Bonus) cukup baik dalam pemaparan visi-misi serta program. Namun demikian, dia menganggap pasangan nomor urut 03 tersebut kurang fokus dalam menguasai panggung debat.

’’Harus dipahami bahwa debat kandidat pilkada ini adalah show atau pertunjukan terhadap gagasan dan janji politik untuk merebut dan memenangkan hati rakyat. Tapi, itu belum dimanfaatkan maksimal,’’ katanya.

Sufyanto menyebut kritik kebijakan yang dilayangkan Bonus sangat bagus. Tapi, alangkah baiknya disertai data valid. Ambil contoh angka pengangguran. Lantaran tak disertai data-data konkret, kata dia, membuat publik menilai kritik sekadar asumsi.

Termasuk ketika mengkritisi kebijakan petahana dengan pertumbuhan ekonomi Kota Madiun naik, namun diiringi tingkat pengangguran tinggi. ’’Terkesan melawan data hanya dengan wacana. Paslon Bonus terlalu banyak menghabiskan energi untuk menyerang dan mengkritik semua kebijakan petahana,’’ sebutnya. (ggi/her)

Editor : Hengky Ristanto
#The Republic Institute #bonus #madiun #Dadi