Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Angan-Angan Merevitalisasi Kampung Pecinan Madiun

Erlita H • Rabu, 29 Januari 2025 | 18:15 WIB
Rumah Kapiten China di Madiun yang saat ini halaman depannya sudah menjadi sebuah kafe. (BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN)
Rumah Kapiten China di Madiun yang saat ini halaman depannya sudah menjadi sebuah kafe. (BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Menurut peta Hoofdplaats Madioen 1917, Kota Madiun dirancang Belanda menjadi tiga kawasan. Kota yang dirancang dengan mengacu aturan wijkenstelsel itu dibagi menjadi kawasan untuk orang-orang Belanda, kawasan pecinan untuk orang-orang Tionghoa serta kawasan untuk orang pribumi. Adapun kawasan pecinan terkonsentrasi di selatan alun-alun yang saat itu menjadi urat nadi perekonomian kota.

----------------------------------------------------------------------

Keberadaan etnis Tionghoa di Madiun sudah ada jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Semula mereka hidup membaur dengan penduduk lokal. Setelah Belanda menguasai sebagian Nusantara dan mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang etnik pada 1831, mengharuskan etnik-etnik yang ada di suatu daerah termasuk di Madiun untuk tinggal di wilayah yang telah ditentukan di dalam kota atau istilahnya Passen en Wijkenstelsel.

Misalnya orang Tionghoa harus tinggal di Pecinan. Sedangkan, yang tinggal di luar Pecinan harus pindah ke dalam wilayahnya sendiri yang telah ditentukan. Dengan tujuan agar mudah diawasi serta dilindungi. Namun dalam stadsblaad tahun 1835 No. 37 tujuan pemisahan Pecinan adalah untuk menghindari bercampurnya dengan bangsa lain di Jawa.

Inilah yang kemudian melatarbelakangi terbentuknya sebuah Pecinan. Di Madiun, etnis Tionghoa di-konsentrasikan di Jalan Nanking (Bogowonto), Jalan Peking (Cokroaminoto) dan Sanghai (Kutai) pada masa kolonial. Keberadaan mereka lantas dikontrol dan diurusi oleh seorang kapten.

Ketua Komunitas Historia van Madiun (HvM) Septian Dwita Kharisma mengatakan, Tan Ting Kiauw ditunjuk menjadi Kapten China Madiun yang pertama (1835–1858). Dia kemudian diberikan wewenang oleh residen untuk mengurusi etnis Tionghoa di Madiun yang mayoritas merupakan pedagang. ’’Makanya, keberadaan mereka dikumpulkan di pusat-pusat kota. Seperti di sekitar Pasar Kawak, Jalan Barito, dan Jalan Cokroaminoto dan Jalan H Agus Salim,’’ terangnya.

Pada zaman kolonial, etnis Tionghoa di Madiun memang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara ekonomi. Pada saat itu, kelompok pedagang Tionghoa memperoleh sistem perdagangan yang bersifat monopoli dari pemerintah Belanda. Antara lain seperti perdagangan opium dan juga garam.

Sehingga, kemampuan ekonomi warga keturunan China itu pun mampu berkembang semakin kuat. ’’Namun, pada sisi lain kondisi itu memicu timbulnya kecemburuan sosial dari kebanyakan orang-orang pribumi,’’ terangnya.

Pada puncaknya terjadi pada pergantian kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda ke penjajahan tentara Jepang pada 1942. Kecemburuan sosial itu seakan dilampiaskan oleh penduduk Madiun. Masyarakat pribumi sontak bergerak melakukan penjarahan pada kelompok yang dianggap menyebabkan kesengsaraan.

Namun, aksi itu rupanya hanya siasat tentara Nippon yang memanfaatkan konflik ekonomi antara penduduk pribumi dengan orang asing. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Tionghoa berhasil meraih kepercayaan dari penjajah Jepang. Sehingga, penduduk keturunan China itu bisa kembali menjalankan aktivitas ekonomi dengan menjadi penyalur barang produksi ke masyarakat.

Sementara ketika pemerintah Republik Indonesia terbentuk, posisi ekonomi orang Tionghoa di Madiun masih tetap eksis. Karena para penduduk keturunan China telah terbiasa menyesuaikan diri dengan situasi. Sehingga, komunitas tersebut mampu hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, sebagian besar dari orang-orang keturunan China juga ikut menyokong perjuangan republik.

Baca Juga: Eksistensi PSMTI Kota Madiun, Sering Patungan Setiap Gelar Kegiatan Sosial

Di sisi lain, para etnis Tionghoa ketika itu tidak membatasi interasiknya dengan penduduk lokal. Hingga akhirnya terbentuklah suatu alkulturasi budaya baru Jawa-Tionghoa. ’’Ada harmonisasi antara masyarakat Tionghoa dan Jawa,’’ ungkap Septian yang merupakan jebolan pendidikan sejarah Unipma tersebut.

Kini, bangunan peninggalan etnis Tionghoa di Kota Madiun tinggal segelintir. Hanya ada Woning Kapiten Chinese atau ruma kapiten Cina yang dulunya merupakan kepemilikan Njoo Bing Thwan. Kemudian, bekas bangunan rumah yang dulu ditinggali Letnan Liem King Jang di Jalan H Agus Salim. Lalu, TITD Hwie Ing Kiong dan PG Rejoagung yang didirikan Oei Tiong Ham.

Sementara itu, Wali Kota Madiun Terpilih Maidi mempunyai angan-angan untuk melestarikan keberadaan kampung Pecinan di kotanya. Seperti dengan membangun gapura di Jalan Batanghari sebagai tetenger. ’’Nanti akan kami buatkan kampung khas Pecinan,’’ ujarnya. ***(her)

Editor : Hengky Ristanto
#Tionghoa #madiun #wijkenstelsel #kampung pecinan #Rumah Kapiten China