Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun mulai memasuki peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) setempat mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, terutama dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Kepala Dinkes PPKB Kota Madiun dr. Denik Wuryani mengatakan, cuaca panas menyebabkan tubuh berkeringat lebih banyak, sehingga risiko dehidrasi meningkat.
’’Karena itu, minimal minumlah dua liter air per hari. Bisa lebih jika aktivitasnya tinggi,’’ ujarnya, kemarin (4/5).
Denik juga mengingatkan sejumlah penyakit yang kerap muncul saat kemarau.
Seperti kulit gatal akibat kekeringan, pingsan karena kurang cairan, hingga heat stroke atau kondisi ketika suhu tubuh meningkat drastis hingga 41 derajat celsius dalam waktu singkat.
Untuk mencegah dampak cuaca panas, Denik menyarankan masyarakat memakai pelindung diri saat keluar rumah.
’’Gunakan sunscreen, pelembap kulit, baju lengan panjang, kacamata, payung, dan masker agar terlindung dari sinar matahari dan debu,’’ jelasnya.
Tak kalah penting, warga diminta menjaga pola makan dengan mengonsumsi buah, sayur, dan tetap beraktivitas fisik sesuai kemampuan.
’’Yang penting cukup minum dan makan bergizi,’’ katanya.
Terpisah, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris menyampaikan, awal musim kemarau di Madiun jatuh pada dasarian pertama Mei.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Bayangi Madiun hingga Akhir April, BPBD Siaga Pemetaan Kekeringan
’’Suhu udara berkisar 28–32 derajat celsius,’’ ungkapnya.
Namun demikian, dia mengingatkan masih ada potensi hujan ringan hingga sedang dalam 3–5 hari ke depan.
’’Dipengaruhi oleh gelombang atmosfer equatorial rossby dan bibit siklon 92S di selatan Jawa Tengah,’’ jelasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto