Jawa Pos Radar Madiun – Penjurian program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) memasuki hari ketiga, kemarin (21/5).
Tim juri yang terdiri atas Uniska Kediri dan DKPP Kota Madiun menilai tujuh sekolah secara bergantian.
Meliputi SMPN 5, SMP Santo Bernardus, SMPN 3, SMPN 1, SMPN 13, SMPN 11, dan SMPK Santo Yusuf.
Kepala SMPK Santo Yusuf, Bruder John Hasibuan, menyambut baik program SPI karena melatih peserta didik memanfaatkan lahan sekolah.
’’Anak-anak sangat antusias. Meski begitu, mereka tetap harus didampingi untuk merawat tanaman dari dinas seperti cabai dan tomat,’’ ungkapnya.
Menurutnya, tantangan merawat tanaman di lingkungan sekolah cukup beragam.
Mulai dari gangguan siswa yang bermain bola, hingga kurangnya pemahaman siswa tentang cara perawatan.
Selain itu, cuaca tak menentu dan hama seperti bekicot dan serangga kerap jadi kendala.
’’Mungkin belum tahu pasti, tomat itu cocoknya ditaruh di tempat teduh atau tidak,’’ ujarnya.
Sementara itu, Hoshie Kalea Indria Pasha, siswi kelas VIII SMPN 1 Kota Madiun, menceritakan keterlibatannya dalam program SPI.
Dia bertugas menyiram tanaman dua kali seminggu dan memberi pupuk secara berkala.
’’Bulan depan kami mau coba metode infus pakai botol bekas. Air akan merembes pelan lewat kain atau kaos,’’ terang Hoshie.
Ada tiga jenis tanaman yang mereka rawat. Antara lain, cabai rawit asmara, cabai besar Imola, dan tomat.
Total bibit yang ditanam mencapai 250 pohon. Kegiatan ini melibatkan lima siswa aktif dan tujuh anggota OSIS.
’’Setelah ikut program ini, saya jadi suka nanam di rumah. Sekarang di rumah juga nanam cabai,’’ pungkas Hoshie. (err/her/prog)
Editor : Hengky Ristanto