Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

28 Sekolah di Kota Madiun Dinilai Program SPI, Hama Jadi Tantangan Terbesar Tanaman Cabai

Erlita H • Sabtu, 28 Juni 2025 | 02:00 WIB
Penilaian SPI temukan kendala hama cabai. 27 sekolah dilibatkan, fokus bulan depan pada panen dan kreativitas siswa. FOTO: BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
Penilaian SPI temukan kendala hama cabai. 27 sekolah dilibatkan, fokus bulan depan pada panen dan kreativitas siswa. FOTO: BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Tahap kedua Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) Kota Madiun resmi memasuki babak penilaian.

Sebanyak 28 sekolah telah dinilai oleh tim juri, termasuk dari kalangan akademisi pertanian.

Penilaian fokus pada aspek generatif pertumbuhan dan pemeliharaan tanaman, khususnya cabai dan tomat sebagai komoditas utama penyumbang inflasi.

Titik Irawati, juri dari Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, menyampaikan bahwa tantangan terbesar sekolah adalah serangan hama.

Mulai dari thrips, ulat, hingga busuk pangkal buah yang banyak menyerang tanaman cabai.

“Permasalahan umum adalah hama penyakit tanaman. Sekolah harus konsisten merawat agar tanaman tetap tumbuh hingga penilaian akhir,” ujarnya, Jumat (27/6).

Faktor cuaca basah dan penggunaan pupuk yang tidak konsisten juga menjadi penyebab lemahnya daya tahan tanaman.

Titik mengungkapkan bahwa beberapa sekolah hanya memberi pupuk awal dari panitia, dan setelah itu tidak menambahkan apapun hingga dua bulan.

“Ada juga yang terlalu sedikit memberikan pupuk karena takut merusak tanaman, padahal itu membuat cabai kekurangan nutrisi,” jelasnya.

Meski banyak menghadapi kendala teknis, antusiasme sekolah peserta SPI tetap tinggi.

Dukungan dari Pemkot Madiun dan DKPP juga dinilai penting.

Anak-anak bukan hanya diajarkan urban farming dengan media botol bekas, galon, hingga kantong plastik, tapi juga diajak mengenal komoditas penyumbang inflasi secara praktis dan kontekstual.

Penilaian lanjutan dijadwalkan bulan depan dengan fokus pada output dan hasil panen.

Mulai dari bobot buah, teknik panen, hingga kreativitas siswa dan guru dalam mengolah hasil menjadi produk konsumsi.

“Jika panen sudah dilakukan sebelum visitasi berikutnya, dokumentasinya bisa dikirim melalui aplikasi,” pungkas Titik. (err/den)

Editor : Hengky Ristanto
#penilaian SPI #kota madiun #tanaman cabai #hama #SPI #urban farming #Sekolah Peduli Inflasi