Jawa Pos Radar Madiun – Harapan warga Kota Madiun memiliki rumah bersubsidi lewat program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih tertutup.
Harga tanah yang melambung membuat program tersebut tak relevan untuk masuk wilayah kota.
Ketua Real Estat Indonesia (REI) Madiun, Muhammad Ali Fauzi, mengungkapkan harga tanah di Kota Madiun rata-rata sudah menembus Rp 1 juta per meter.
Padahal, standar harga tanah untuk pembangunan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) idealnya di bawah Rp 400 ribu per meter.
“Kalau sejuta per meter, jelas tidak relevan. Karena itu rumah subsidi dialihkan ke wilayah kabupaten yang harga tanahnya masih terjangkau,” kata Ali Fauzi, Rabu (20/8).
Menurutnya, kebijakan Pemkot Madiun juga belum memberi ruang bagi pengembang rumah subsidi.
Akibatnya, stok tanah yang sudah dibeli anggota REI di dalam kota dialihkan untuk pembangunan rumah nonsubsidi.
Ali Fauzi menegaskan, sektor perumahan memiliki peran penting dalam memacu perekonomian.
Dari pembebasan lahan hingga pembangunan, nilai investasi bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
Sebagai contoh, satu hektare lahan dengan harga Rp 500 ribu per meter sudah setara Rp 5 miliar.
Jika kemudian dibangun 100 unit rumah dengan nilai Rp 200 juta per unit, total investasi mencapai Rp 20 miliar.
Jumlah itu belum termasuk pajak dan multiplier effect lainnya.
Tahun ini, REI Madiun menargetkan pembangunan 1.000 rumah di wilayah Madiun Raya.
Organisasi ini juga mencatat pertumbuhan positif dengan rata-rata dua pengembang baru bergabung setiap bulan.
“Artinya sektor perumahan terus tumbuh. Kami optimis target 1.000 rumah tercapai,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto