Jawa Pos Radar Madiun – Penilaian sekolah peduli inflasi (SPI) telah selesai. Beberapa hal terkait program itu telah dicatat. Seperti, produktivitas tanaman dan strategi pemasaran.
‘’Variabel pertumbuhan tanaman secara umum cukup bagus,’’ kata Titik Irawati, juri SPI dari Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, kemarin (31/7).
Selanjutnya, dilakukan proses sinkronisasi antara data lapangan dan data yang diunggah sekolah melalui aplikasi.
Titik berharap, program SPI ini bisa terus berlanjut. Terutama dalam menanam komoditas penyebab inflasi sejak jenjang SD hingga SMA.
’’Harapannya, siswa bisa belajar teknik menanam dan menerapkannya di rumah masing-masing,’’ ujarnya.
Nur Hasyim Asyari, juri dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun, mengatakan, belum semua tanaman masuk tahap produksi.
Dari 28 sekolah peserta, beberapa di antaranya masih di fase generatif. ‘’Sekitar 80 persen sekolah sudah mencapai tahap produksi atau panen,’’ ungkap penyuluh pertanian itu.
Sisanya, belum berhasil panen karena berbagai faktor. Seperti tanaman mati, pertumbuhan tidak normal, atau serangan hama.
Hasyim menyebut, tingkat keberhasilan tanaman tomat berkisar 60–70 persen, sementara cabai sekitar 50 persen.
Catatan ini menjadi bahan evaluasi ke depan. ’’Banyak faktor yang memengaruhi, seperti cuaca, media tanam, dan jenis cabai itu sendiri,’’ jelasnya. (err/den/prog)
Editor : Mizan Ahsani