Jawa Pos Radar Madiun – Upaya Pemkot Madiun mengendalikan inflasi mulai menunjukkan hasil.
Badan Pusat Statistik mencatat deflasi sebesar 0,07 persen pada Agustus 2025.
Angka ini dinilai sebagai bukti keberhasilan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Sekolah Peduli Inflasi (SPI) yang digulirkan pemerintah kota.
Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Madiun, Danang Novianto, menjelaskan deflasi dipicu turunnya harga komoditas hortikultura, terutama tomat dan cabai.
’’Alhamdulillah sudah tercukupi bahkan posisi panen. Komoditas hortikultura jadi pemicu deflasi,’’ ujarnya, Rabu (3/9).
Menurut Danang, deflasi ini juga dipengaruhi penyesuaian harga BBM serta biaya pendidikan pasca tahun ajaran baru.
Ia menegaskan tren deflasi menjadi sinyal bahwa ketahanan pangan di Kota Madiun relatif stabil.
Untuk menjaga momentum, pemkot bersama BI menggencarkan program SPI dengan menanam 150 bibit hortikultura di SMP negeri maupun swasta.
Selain itu, Dinas Pendidikan mencanangkan program metapro (menanam tanaman produktif) di SD dan SMP.
ASN juga diwajibkan menanam enam bibit cabai, tomat, dan terong, sedangkan di tingkat masyarakat program P2L terus digalakkan.
’’Tujuannya agar cukup untuk kebutuhan di lingkungan sekitar atau minimal di kelurahan masing-masing,’’ jelasnya.
Tak hanya hortikultura, sebagian petani di Kota Madiun sudah memasuki musim panen padi.
Harga beras medium masih stabil di Rp 13.500 per kilogram sesuai HET.
Pemerintah juga melakukan intervensi transportasi lokal melalui subsidi angkutan sekolah gratis.
’’Kalau transportasi antar kota tidak bisa diintervensi, tapi dalam kota masih bisa,’’ tandas Danang. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto