Jawa Pos Radar Madiun – Perekonomian Kota Madiun kembali mencatatkan tren inflasi setelah sempat deflasi pada Agustus lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan September sebesar 0,03 persen, terendah di antara 11 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan, capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di tingkat konsumen masih terjaga.
’’Secara bulanan, inflasi di Kota Madiun paling rendah di Jawa Timur,’’ ujarnya, kemarin (5/10).
Dari data BPS, kenaikan harga daging ayam ras (10,82 persen) menjadi pemicu utama inflasi.
Disusul emas perhiasan (5,38 persen), cabai rawit (7,22 persen), cabai merah (18,54 persen), serta beberapa komoditas lain seperti tarif akademik, apel, wafer, parfum, ayam bakar, dan sabun mandi.
Sebaliknya, sejumlah harga turun seperti bawang merah, tomat, pisang, alpukat, semangka, kacang panjang, kangkung, jeruk, ketimun, serta tarif kereta api.
’’Secara umum, kenaikan harga hanya terjadi di beberapa komoditas. Kalau dilihat secara tahunan, inflasi masih terkendali,’’ jelas Aziz.
Inflasi year on year (yoy) hingga September tercatat 2,37 persen, masih di bawah target nasional 2,5 persen.
Sementara inflasi tahun kalender (Januari–September) sebesar 1,43 persen.
Aziz menilai, turunnya harga bawang merah dipengaruhi melimpahnya hasil panen di sentra produksi, sedangkan diskon tarif kereta api menekan inflasi transportasi.
Kenaikan harga emas dunia dan penyesuaian biaya akademik perguruan tinggi ikut mendorong inflasi.
Ia memastikan pasokan bahan pangan di Kota Madiun masih terkendali.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengganggu pasokan bahan makanan. Semua masih aman,” terangnya.
Menjelang akhir tahun, BPS mengingatkan pemkot agar menjaga ketersediaan bahan pokok menghadapi Natal dan Tahun Baru.
’’Komoditas hortikultura kerap memicu inflasi saat musim hujan. Itu yang perlu diwaspadai,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto