Jawa Pos Radar Madiun – Pemerintah pusat memastikan stabilitas harga beras di pasaran tetap terkendali.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Pangan, Polda Jatim, serta dinas ketahanan pangan dan perdagangan provinsi Jumat (24/10) turun langsung memantau stok dan harga beras di Pasar Besar Madiun (PBM).
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET).
“Beras medium ditetapkan Rp13.500 per kilogram, sedangkan premium Rp14.900 per kilogram. Dalam sepekan ke depan kami harap seluruh daerah sudah menyesuaikan,” ujarnya.
Monitoring dilakukan serentak di 514 kabupaten/kota menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) untuk menjaga stabilitas pangan.
“Beras dikonsumsi 286 juta penduduk Indonesia setiap hari. Kalau harganya naik, otomatis membebani rumah tangga,” jelas pejabat kelahiran Ponorogo itu.
Selain harga, Bapanas juga memeriksa mutu dan label beras di pasaran.
Sampel diambil untuk diuji laboratorium guna memastikan kualitas sesuai label.
“Beras premium seharusnya kadar patah maksimal 15 persen, sementara medium 25 persen. Kalau tidak sesuai, bisa melanggar izin edar,” tegasnya.
Andriko menambahkan, pelanggar HET dan izin edar akan ditindak tegas.
“Sanksinya bisa pencabutan izin usaha. Kalau tetap beroperasi setelah dicabut, ada pidana,” tandasnya.
Dari hasil pantauan, harga beras di ritel modern Kota Madiun sudah sesuai HET. Beras kemasan lima kilogram dijual Rp74.500, dan beras SPHP Bulog Rp12.500 per kilogram.
Namun di pasar tradisional masih ditemukan variasi harga.
“Masih ada yang di atas HET. Satgas Pangan daerah akan menelusuri penyebabnya, apakah dari produsen atau rantai distribusi,” ujarnya.
Andriko memastikan pasokan beras nasional aman.
Cadangan Bulog mencapai 3,7 juta ton secara nasional, dengan stok di Jawa Timur sekitar 900 ribu ton.
“Stok ini siap digelontorkan kapan pun untuk menstabilkan harga,” imbuhnya.
Selain menjaga pasokan, pemerintah juga menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen untuk meringankan beban petani.
“Dengan harga gabah acuan Rp6.500 per kilogram dan pengurangan biaya produksi, petani tetap bisa untung,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto