Jawa Pos Radar Madiun – Dana transfer keuangan daerah (TKD) untuk Kota Madiun tahun depan dipastikan berkurang Rp168 miliar.
Kondisi itu membuat Wali Kota Maidi menyiapkan sembilan jurus efisiensi agar roda pemerintahan tetap berjalan optimal.
Salah satu jurus utama yakni menghidupkan kembali kinerja BUMD.
Menurut Maidi, badan usaha milik daerah harus sehat dan mandiri agar tidak terus bergantung pada suntikan dana APBD.
’’Pendapatan BUMD harus naik. Kalau BUMD bisa mandiri, tidak perlu lagi transfer dari daerah. Mereka harus mampu menunjang kegiatan sendiri,’’ ujarnya, kemarin (24/10).
Selain itu, pemkot akan mengoptimalkan aset-aset daerah yang belum produktif.
Aset yang terbengkalai bakal diinventarisasi ulang agar bisa dimanfaatkan untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD).
Pemkot juga menyiapkan pelatihan bagi seluruh OPD, terutama tenaga kerja kasar seperti tukang dan petugas lapangan.
Tujuannya, agar pekerjaan ringan bisa dikerjakan mandiri tanpa perlu tenaga luar.
’’Kami dorong mereka bisa memasang bata, membuat gazebo, bahkan membangun rumah dinas sendiri. Barang bongkaran pun masih bisa dioptimalkan,’’ jelasnya.
Konsep efisiensi itu juga diterapkan dalam pemanfaatan ulang material bangunan seperti kayu, genteng, dan besi bekas.
Meski digunakan kembali, Maidi menegaskan kualitasnya tetap dijaga.
’’Efisiensi bukan sekadar memangkas pengeluaran, tapi mengoptimalkan apa yang sudah ada,’’ tegasnya.
Maidi juga menekankan pentingnya penggunaan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk hasil pertanian Ngrowo Bening.
Selain itu, pemkot akan menghidupkan kembali aplikasi belanja ASN agar aparatur wajib membeli produk lokal Kota Madiun.
’’Dengan begitu, perputaran ekonomi lokal tetap hidup. UMKM, pasar tradisional, semuanya bergerak,’’ katanya.
Tak hanya soal ekonomi, Maidi juga menargetkan penurunan angka hipertensi di masyarakat.
Dia berharap pola hidup hemat dan produktif berdampak positif pada kesehatan warga.
’’Pendapatan rumah sakit harus turun karena warga makin sehat. Tapi pendapatan rumah makan dan restoran justru harus naik,’’ selorohnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto