Jawa Pos Radar Madiun – Kasus kehamilan remaja di Kota Madiun masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Meski begitu, angkanya menunjukkan tren menurun dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) setempat, tercatat 47 kasus pada 2023, 32 kasus di 2024, dan turun menjadi 22 kasus pada 2025.
Kepala Dinkes PPKB dr. Denik Wuryani mengatakan, kehamilan pada usia 11–19 tahun perlu pengawasan intensif.
’’Data ini kami peroleh dari seluruh fasilitas kesehatan di Kota Madiun. Meski menurun, kami tetap melakukan pendampingan agar risiko kesehatan ibu dan bayi bisa ditekan,’’ ujarnya, kemarin (30/10).
Denik menyebut, penyebab pasti kehamilan remaja belum bisa disimpulkan karena belum ada penelitian khusus.
Namun, seluruh kasus telah ditangani secara komprehensif.
’’Pendampingan psikologis dan pemeriksaan kesehatan dilakukan rutin. Kami juga berkolaborasi dengan OPD dan instansi lain untuk memperkuat edukasi reproduksi remaja,’’ tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Madiun Maidi menegaskan bahwa pemerintah kota terus menggencarkan langkah pencegahan kehamilan dini.
’’Kami memperkuat PPKB, menambah penerangan di taman-taman kota, membina kesehatan usia dini, memperluas edukasi reproduksi, dan mengaktifkan Forum Anak Kota Madiun (FAKOM),’’ jelasnya.
Maidi mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam pernikahan dini.
’’Kehamilan dini itu seperti bunga layu sebelum mekar, berisiko tinggi melahirkan anak stunting. Maka jangan cari risiko tinggi, pilih jalan aman,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto